#Seorang anak
bernama Andi yang kita wawancarai mengungkapkan proses belajarnya yang tidak
seperti apa yang dilakukan orang normal. Ya..karena ia tak bisa melihat. Namun,
dengan kegigihannya yang luar biasa ia pun bisa memahami apa yang disampaikan
sang guru. Aku semakin kagum dengannya, lantaran Andi merupakan anak
berprestasi. Tercatat, ia sudah pernah dua kali menjuarai sebuah kejuaraan lomba
catur di tingkat nasional. Sungguh, pencapaian yang luar biasa menurutku. Tak
hanya itu, ia pun pernah meraih juara lomba tenis meja dan lomba adzan.
Subhanallah…aku tambah terharu. Ternyata, keterbatasan seseorang bukan
merupakan penghalang untuk berprestasi. Ya..ternyata Tuhan memberikan kelebihan
bagi orang yang tidak bisa melihat dengan felling yang kuat dan pendengaran
yang tajam. Ketika aku melihat diriku sendiri, tentunya aku harus malu, karena
pencapaian prestasi selama ini belum maksimal. Ya..padahal, aku orang normal,
aku bisa melihat dan mendengar dengan normal. Kita harus banyak belajar dari
mereka dengan keterbatasan fisiknya bisa berprestasi. Kita harus punya komitmen
yang tinggi untuk terus berprestasi, mereka saja bisa kenapa kita tidak? Iya
kan..!!!
#Kita sebagai
seorang guru, harusnya juga bisa banyak belajar dengan kegigihan dan kesabaran
guru disana. Terkadang, kita mudah tersulut emosi, mudah marah ketika menghadapi murid kita yang sulit memahami apa yang kita
sampaikan. Ya..begitulah, padahal murid kita normal tidak seperti murid di luar
sana dengan segala keterbatasan penglihatan. Mungkin, kita harus banyak berkaca
pada diri sendiri, sudahkah kita mendidik dengan hati. Sungguh, seorang guru di
sekolah spesial itu senantiasa mendidik dengan penuh kesabaran karena memang
anak-anak di SLB itu bukan anak-anak biasa, tapi mereka anak-anak luar biasa.
Hati ini semakin terharu melihat kegigihan guru-guru disana, karena tidak semua
guru bisa telaten dan sabar mendidik anak di SLB. Apresiasi yang luar biasa
kepada mereka, para guru disana. Terimakasih, kembali menyadarkan aku.
***
#Pada perjalanan
pulang, ternyata tidak berhenti sampai disini Tuhan menunjukkan tanda-tanda
kebesarannya agar aku lebih bersyukur. Ya..kala itu, aku melihat seorang
penjual koran di sebuah perempuan lampu merah. Beliau adalah orang yang sudah tua renta yang lagi-lagi
diberikanoleh Tuhan, fisik yang kurang sempurna. Ya..kakinya tak bisa berjalan
sempurna, tangannya pun tak bisa bergerak sebagaimana layaknya orang normal,
berbicarapun sulit. Namun, sungguh luar biasa perjuangan hidup orang ini. Ya…
karena ia berprofesi sebagai PENJUAL KORAN di perempatan lampu merah itu.
Aku kembali terharu,
dan batinku menangis melihat orang dengan keterbatasan seperti itu masih
berjuang bekerja mempertahankan hidupnya. Memory kembali mengingatkanku ketika
kala itu aku juga pernah berjualan koran di perempatan lampu merah dekat Jogja
Expo Center (JEC). Aku sudah pernah merasakan sendiri bagaimana rasanya
berjualan koran di bawah teriknya matahari yang begitu menyengat. Profesi
sebagai penjual koran adalah sebuah profesi yang paling mengesankan yang pernah
saya alami. Profesi itulah yang kala itu menginspirasiku untuk bisa menulis
artikel di koran. Ya..berawal dari berjualan koran, sehingga bisa menulis di
koran.
#Karena rasa iba,
aku pun turun untuk membeli koran itu dan memberikan uang yang mungkin tak
banyak. Semoga saja orang ini selalu diberikan perlindungan dan ketegaran hidup
oleh Tuhan semesta alam. Pelajaran yang sungguh berharga, orang dengan
keterbatasan fisik saja, tetap berusaha dan pantang menyerah untuk bisa mempertahankan
hidupnya. Kita sebagai orang yang diberikan fisik sempurna, sudah seharusnya
pantang menyerah dan menatap optimis masa depan. Dengan fisik yang sempurna,
kita bisa lebih banyak melakukan banyak hal. Terimakasih orang-orang yang luar
biasa yang mengajariku tentang arti kehidupan. Dan tentunya kita harus banyak
bersyukur dengan nikmat Tuhan yang telah Tuhan karuniakan kepadaku. Maka nikmat
Tuhan manakah yang Engkau dustkakan?
Jogja, 24 Januari
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar