
Pak Tarom ini dulunya ketika menjadi santri benar-benar
sebagai santri berjiwa pengabdi. Ketika menjadi santri pernah juga menduduki
posisi penting menjadi lurah pondok. Banyak hal-hal bermanfaat dan jasa-jasa
yang telah beliau lakukan di WH. Sungguh, saking setianya dengan WH beliau pun
berhasil mempersunting seorang istri yang sama-sama santri WH. Saking setianya
dengan Wahid Hasyim, sampai-sampai beliau menyerahkan putranya ke Wahid Hasyim
untuk menuntut ilmu, saat ini duduk di MTs Wahid Hasyim. Ya..dari WH untuk WH.
Sosok
sederhana
Selanjutnya, bapak Kyai juga
menyampaikan Bapak Tarom ini merupakan sosok yang sederhana. Yang menjadi
berbeda dengan alumni-alumni lain adalah kalau kebanyakan para alumni yang
sowan ke WH, biasanya menunjukkan kesuksesan yang kini telah diperolehnya,
dengan menggunakan baju yang necis, bermobil dan seterusnya. Tapi tidak dengan
Pak Tarom. Beliau datang ke WH dengan pakaian yang sederhana dan beliau tak
menampakkan dirinya dengan mobilnya yang mewah yang di parkir di halaman
pesantren. Entah, tak tahu..apakah beliau memakirkan kendaraanya di luar
halaman pesantren atau bahkan menggunakan kendaraan umum. Sungguh, luar biasa
ya pak Tarom ini. Semoga kita bisa lambat laun menirunya yaa…
Lebih lanjut, pak Tarom banyak bercerita kepada para
santri. NKRI ini bisa berdiri juga atas peran santri, sehingga peran santri
juga tak boleh di pandang sebelah mata. Sebagai santri, hendaknya kita harus
bisa melestarikan ideologi dan tradisi pesantren sesuai dengan ahlus sunnah wal
jama’ah.
Beliau menyampaikan, ada prinsip prinsip yang perlu
kembali di bangun sebagai seoorang santri, diantaranya adalah Kejujuran, Amanah,
Keseimbangan, Kerjasama, dan Istiqomah.
Dengan begitu, alumni pesantren akan berbeda dengan alumni yang bukan
pesantren. Para alumni pesantren akan mudah diterima oleh masyarakat karena
memang di pesantren sudah belajar hal itu.
Sebagai santri, hendaknya juga terus berusaha untuk
mempertahankan nilai-nilai dan tradisi
pesantren. Budaya dan tradisi pesantren yang kini sudah terbangun adalah
menjadi barang langka di luar sana, sehingga harus terus dipertahankan.
Penting
mana, kuliah atau pondok?
Yang terjadi selama ini adalah bahwa santri masih saja
mementingkan kuliahnya daripada pondoknya. Dalam artian, pondok menjadi
prioritas kedua. Dan memang, adanya seperti itu. Tapi sebagai santri berjiwa
pengabdi, harusnya pondok juga menjadi hal yang sama-sama diprioritaskan. Pak
Tarom menyampaikan, pondok ibaratkan kawah condrodimuka yang siap menggodok
kita menjadi orang yang luar biasa. Karena ilmu di pondok tak bisa di dapat di
jenjang perkuliahan. Inilah yang akan menjadikan santri menjadi superhero
setelah keluar dari pondok. Jangan berpikir pondok hanya dari segi material.
Satu contoh adalah dari pada ngekos mahal mendingan tinggal di pondok, atau
contoh lain adalah di pondok kan bisa dapet honor dari mengajar atau yang
lainnya. Intinya, jangan sampai berpikir matematis mengenai hal-hal yang kita
lakukan di pondok. Begitulah kiranya,
sedikit ulasan yang bisa penulis tangkap dari apa yang disampaikan pak Tarom.
Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat dan mohon koreksi kalau ada yang kurang
pas ya..terimakasih.
Jogja, 16 Maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar