
Banyak diantara yang beranggapan, bahwa nikah itu
ternyata bisa mendukung dan melejitkan karir kita. Sejauh ini, ada banyak orang yang aku temui
yang menguatkan hal itu. Namun, dalam
hal ini aku akan menuliskannya 3 orang saja yang mewakili dari sekian banyak
orang, karena terbatasnya waktu dan tenagaku untuk menuliskannya. Diantaranya 3
orang itu adalah Kang Deden, Pak Sukiman, dan Mas Bamban.
Kang
Deden
Beliau menikah di usia muda, kala itu beliau masih
semester 7. Waktu itu beliau menikah dengan gadis Purworejo yang saat itu masih
menduduki semester 3. Subhanalloh…mereka bermodalkan keyakinan yang kuat, nikah
bukanlah hal yang penting untuk dirayakan dengan meriah, katanya.” Tapi, dana
yang buat pesta lebih baik buat untuk keperluan rumah tangga atau mendirikan
bisnis. Aku pun sering menjadi bahan ledekan kang Deden lantaran belum
nikah..Haha...Awass…akan ku buktikan dehh….!!!! Ckckck.
Luar biasa, dengan
proses panjang kehidupan dan berbagai profesi yang dilaluinya, saat ini Kang
Deden menjadi seorang trainer dan motivator hebat, sehingga bisa berbagi ilmu
di seantero Indonesia. Istrinya pun tak kalah, beliau menjadi kepala TKIT
Salsalbila Purworejo. Sungguh, bahagia sekali..proses perjuangan bersama yang
membuahkan hasil yang manis. Apalagi, lengkap kehidupan mereka diberikan dua
orang putra. Salut dan selamat buat pasangan yang satu ini.
Pak
Sukiman
Beliau ini adalah dosen saya sewaktu kuliah S1 dan S2.
Dosen yang ternyata alumni Wahid Hasyim ini ternyata juga menikah di usia muda.
Ketika sebelum menikah, profesi strategispun belum beliau dapatkan. Tapi,
sungguh luar biasa setelah beliau menikah, kesuksesan demi kesuksesan mereka
raih. Beliau diangkat PNS tak lama setelah beliau menikah. Saat ini pun beliau
tak hanya menjadi dosen tapi juga menempati posisi strtegis sebagai Pembantu
Dekan 1 Fakulta Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ketika
perkuliahan di Pascasarjana, beliau juga mendorong mahasiswanya agar cepet
nikah. Xixixi. Nikah itu, nggak usah nunggu selesai kuliah S2 mas,,”kurang lebih
seperti itu ngendikane pak Sukiman.
Beliau menceritakan pengalaman pernikahannya dulu yang inspiratif. Beliau
semakin memantapkan saya, bahwa nikah di
usia muda itu ternyata malah bisa melejitkan dan menunjung kesuksesan kita.
Mas
Bamban
Aku kenal mas Bamban
ketika rapat madrasah di Puskesmas Depok II. Saat itu beliau duduk di samping
kiriku, lalu kita pun ngobrol dan shering-shering banyak hal. Beliau mengatakan
sebuah penyesalan, “Saya menikah umur 27 mas, tapi kalau tahu begini kalau
nikah malah bisa melejitkan karir saya, saya sudah nikah dari dulu mas.”
Begitulah kira-kira pernyataannya. Setelah menikah ini, rezekipun diberikan
jalan keluar dari Allah SWT. Saat ini beliau berprofesi sebagai guru di SD Budi
Mulia Dua serta sebagai Owner toko penjualan Komputer/ multimedia. Salut juga
dengan mas Bamban. Terimakasih shering-sheringnya.
========================================
Entah, kita boleh percaya boleh tidak karena hal ini
tergantung cara kita memandangnya. Kalau kita yakin dengan kekuasaan Allah,
maka kita tak akan takut untuk menikah. Rezeki sudah Allah yang mengatur, yang
terpenting kita tak tinggal diam dan mau berusaha. Insya Allah dengan sebuah
keyakinan, menikah akan memberikan motivasi kita untuk melejitkan karir kita
dan Insya Allah segala kebutuhan kita dicukupi oleh Tuhan semesta alam, Allah
Rabbul ‘Izzati.
Tentunya, apa yang saya tulis ini ada pro dan kontra
diantara kita. Anda boleh setuju dan boleh tidak, masing-masing diantara kita
bebas menentukan prinsip hidup kita masing-masing. Yang jelas, mari kita
siapkan semuanya sebelum pernikahan itu terjadi, baik dari segi mental dan finansial.
Segi mental, kita harus siap menjadi seorang ayah yang bertanggung jawab
terhadap keluarga. Seorang wanita pun juga harus siap menjadi seorang ibu,
bukan hanya siap menjadi seorang istri. Ya..karena, kelak ia dihadapkan pada
tanggung jawab untuk mendidik putra-putrinya dan menjadi teladan bagi putra
putrinya kelak. Antara kedua pasangan harus sama sama mempunya mental yang siap
membangun rumah tangga secara bersama-sama.
Dari segi finansial, seorang calon suami juga harus
mempunyai kesiapan finansial. Yang dimaksud disini adalah tidak harus sudah
mapan, yang penting ada hal yang bisa dilakukan untuk memenuhi kehidupan rumah
tangganya kelak. Kalau memang belum sampai seperti itu, minimal ada pandangan
ke depan, bahwa ketika nikah nanti ia menekuni usaha / pekerjaan apa untuk bisa
menunjang kebutuhan rumah tangganya. Ya…lagi-lagi,ini juga subyektif. Keyakinan
dan prinsip kita mesti berbeda satu sama lain. Yang jelas, semoga bagi yang
belum nikah, segera dipertemukan jodohnya dan membangun mahligai rumah tangga
yang akan membawa ke dua pasangan ke surga. Bagi yang udah nikah, saya doakan
semoga menjadi keluarga bahagia dunia dan akhirat. Salam Sukses…!!!
Coretan 25 Agustus 2014
Beberapa galeri kondangan (foto pernikahan teman2)
Nikahah Mbak Ulfa
![]() Nikahan Mas Zubed
Nikahan mbak Nikmah
|
![]() |
Nikahan Erna
Nikahan Tri dan Indri
![]() |
Nikahan B Ela dan Mas Jamal |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar