.jpg)
Lalu, naiklah pengamen selanjutnya.
Mereka adalah dua orang pemuda yang terlihat rock and rool dengan pakaian
compang camping seadanya. Namun, yang ku salut dengan mereka adalah lagu yang
dibawakannya adalah lagu yang menurutku cukup menghibur para penumpang. Lebih
dari itu, lagunya bernilai dakwah dan mengajak orang untuk berbuat kebaikan.
Secara teks aku kurang hapal secara lengkapnya, namun ada beberapa pesan-pesan
yang bisa saya tangkap dari lagu itu.
Lagu itu mengingatkan kita akan
kehidupan dunia ini yang sementara. Hidup di dunia ibarat “mampir ngombe”, karena hidup yang sebenarnya adalah kehidupan
akhirat yang kekal abadi. Makanya, mumpung masih hidup di dunia mari kita
persiapkan bekal sebanyak-banyaknya. Dalam lagu tersebut, kita diajak untuk
melakukan ibadah sholat dengan baik, karena memang sholat merupakan ibadah yang
dihisab pertama kalinya di akhirat kelak. Lagu itu juga mengingatkan kita agar
tidak menjadi orang yang pelit. Sebagai orang muslim sudah sewajarnya harus
peduli dengan orang lain. Kepedulian itu
salah satunya bisa dengan media sedekah. Sedekah merupakan sebuah amalan yang
harus kita biasakan. Tanpa dibiasakan, memang sedekah terasa sulit. Dimulai
dari nominal yang kecil, tak masalah. Namun, tiap hari terus ditingkatkan, tiap
hari terus ditingkatkan, dan tentunya
kita juga harus meningkatkan derajat keikhlasan kita.
Sebenarnya ada banyak pesan-pesan
dari lagu itu, yang membuat hati ini tersentuh dan merasa kembali diingatkan.
Terimakasih pemuda pengamen yang mengingatkan kita lewat lagu dakwahnya. Ternyata
tidak hanya seorang Kyai/ Ustadz saja yang bisa menyampaikan dakwah. Dakwah
saat ini, tidak harus secara formal dalam forum pengajian dan forum-forum
resmi. Aktivitas kita pun bisa bernilai dakwah ketika kita bisa menginspirasi
orang lain untuk melakukan kebaikan.
Saking senengnya saya hari itu,
saya pun memberikan nominal yang tidak biasanya kepada mereka. Saya pun ingin
mengetahui lebih lanjut dan mempelajari lagu-lagunya. Ku tanya nomer yang bisa
dihubungi, ternyata mereka tidak hapal nomer handphonenya. Akhirnya, kuberikan
kartu namaku supaya nantinya tetap bisa menjalin silaturrahim dengannya. Terimakasih mas Pengamen atas lagunya yang
menginspirasi, semoga suatu saat bisa berjumpa dengan mereka untuk mempelajari
lagu-lagu yang penuh hikmah. Tak terasa, saat itu bus sudah hampir memasuki terminal
giwangan, merekapun turun dari bus itu. Kudapatkan pesan yang luar biasa.
Ternyata pesan-pesan kebaikan itu tidak hanya kita dapatkan dari seorang dai,
mubaligh, penceramah, motivator dan sebagainya. Namun, kita bisa belajar
tentang pesan-pesan kebaikan dengan siapa saja apapun profesinya dan dimanapun
tempatnya. Mari, jadi pembelajar sejati.
Jogjakarta, 16 Januari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar