![]() |
DEWAN PENGGALANG SMP N 10 PURWOREJO Xixixi... aku kecil sendiri |
Terkadang, ada orang yang menganggap organisasi hanya menyita waktu kita, menambah pekerjaan kita, menambah beban pikiran kita, dan sebagainya. Namun, ternyata organisasi bisa melatih orang menjadi manusia yang luar biasa.
Teringat kala itu, waktu aku masih usia TK. Iya.. dulu ketika aku TK aku adalah anak yang cengeng, suka menangis kalo diejek kawan. Tak berkutik dan tak berani melawan ketika di ejek ataupun dijahili teman. Hanya bisa menangis dan mengadu kepada ibu guru. Sungguh malunya aku ketika mengingat masa itu. Hal itu beranjak sampe SD, aku bukan anak yang pintar ataupun bodok sekali. Hanya sedang-sedang saja. Kala itu, rupanya aku belum banyak dipertimbangkan oleh kawan. Siapa juga yang mau menganggap orang sepertiku. Itu dulu....hehehe.. Seingatku, jadi ketua kelas barang sekali pun belum pernah. Tak ada skills organisasi sedikitpun kala itu.
Beranjak jenjang SMP, aku mulai tertarik dengan organisasi. Kala itu hanya organisasi pramuka menjadi Dewan Penggalang yang mengampu adik-adik kelas. Disitulah pertama kalinya aku belajar tentang organisasi. Banyak hal memang pelajaran yang aku dapat baik dari Pembina pramuka atau kawan-kawan. Tak lagi cengeng, bisa lebih mandiri, belajar tanggung jawab, dan sebagainya.
Ternyata hobi organisasi nampak kembali ketika aku sekolah di jenjang SMA yaitu di MAN Purworejo. Amanah yang ku terima pertama kali adalah menjadi Anggota OSIS Departemen Kerohanian. Tak tahu kenapa, kok aku ditunjuk di departemen Kerohanian, mungkin karena aku rajin adzan di Mushola sekolah kali ya..hehe.

Apa boleh buat dengan keadaan yang agak terpaksa aku akhirnya maju sebagai calon ketua OSIS kala itu. Seingatku ada 3 kandidat, Dimas putra dari guru Biologiku dan satunya adalah Huda, anak yang paling pintar satu sekolah. Ya... setiap kenaikan kelas beliau selalu jadi nomer satu di sekolah. Mereka mempunyai nilai lebih masing-masing, sedangkan aku dari segi tampang sudah tak meyakinkan. Ku bernada pesimis.
Singkat cerita, ternyata aku terpilih menjadi Ketua OSIS dengan jumlah suara melampaui kedua temanku. Tak habis pikir waktu itu, padahal sebenarnya aku tak berhatap banyak. Karena memang itu tugas yang berat. Akhirnya aku yakinkan diriku untuk bisa menjalankan amanah itu.
Disinilah aku belajar banyak hal tentang organisasi. Bagaimana mengkoordinasi sebuah kepanitian, menyiapkan sebuah acara atau event, melobi sponsor, publikasi acara dan sebagainya. Disinilah aku mulai belajar berbicara di depan orang banyak. Sebuah tim OSIS yang kita namakan dengan OSIMA (OSIS MAN PURWOREJO). Kala itu, kebersamaan begitu erat, suka dan duka kita lalui bersama dalam sebuah organisasi. Berjalan bersama demi meraih sebuah tujuan yang sama. Tantangan demi tantangan terus menghadang, tapi kita lalui bersama-sama sehingga tantangan itu pun berhasil dilalui. Dengan postur tubuh yang tak begitu besar ini ku beranikan diri untuk menjadi pemimpin upacara dengan pembina upacara bapak Bupati Purworejo, tepatnya ketika acara hari ulang tahun sekolahku. Seakan tak percaya, aku yang dulu cengeng bisa memimpin teman-teman segitu banyaknya.
Memang segala proses itu harus kita lalui, jangan takut dengan hal yang baru, karena itu adalah sebuah tantangan baru yang menantang dan mengajari kita lebih dewasa. Sungguh, saya ucapkan terimakasih sedalam-dalamnya kepada bapak/ ibu pembina OSIS yang dulu telah mengajariku banyak hal dalam mengelola sebuah organisasi.
Hobi organisasipun berlanjut sampai kuliah. Namun, di jenjang perkuliahan aku tak bisa maksimal mengembangkan jiwa organisasi di kampus, karena harus bernaung dan mengabdi di pesantren. Tapi bukan menutup kemungkinan kita harus tertutup pada sebuah organisasi. Di kampus aku hanya mendalami didunia pengembanggan skils dan seni. Diantara organisasi yang pernah saya ikuti adalah UKM Al Mizan, KSIP (Kelompok Study Ilmu Pendidikan), Forstar (Forum Study Tarbiyah), Buletin Konsolidasi 09, dan DPP PKTQ. Sempat akan diminta kakak kelas menjadi wakil ketua BEM dari 2 partai yang ada di kampus yaitu 2 partai yang sangat berbeda ideologinya, partainya orang PMII dan KAMMI. Namun, daripada menimbulkan hal yang tak baik, akhirnya aku menolak semuanya. Biarlah dipegang teman-teman aktivis lain yang mungkin lebih kompeten. Karena memang saat itu, lagi menyibukkan diri di organisasi pesantren. Disanalah kemampuan organisasi lebih terolah lagi, namun semuanya belum maksimal karena memang mempunyai tanggung jawab dan kawajiban lain di pesantren. Tapi hal ini, sudah cukup memberikan tambahan bekal organisasi.

Seorang organisatoris akan mudah berinteraksi dengan siapapun dimanapun dia berada. Ia mudah diterima oleh siapapun. Ya.. wajarlah, karena dunia organisasi tak bisa terlepas dari sebuah interaksi sosial. Ya di organisasilah kita bisa belajar semacam ini. Seseorang yang tak suka organisasi tentunya akan cenderung lebih tertutup dibanding dengan orang yang suka organisasi.
Organisasi menjadi ekspresi diri kita untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri. Melatih kemampuan berpikir dalam menyelesaikan masalah dan menjadi wahana mengaktualisasikan diri. Kalau kita tahu manfaat dari organisasi pastilah kita akan menjadi organisatoris.
Akan berbeda seorang mahasiswa yang hanya sekedar kuliah, masuk keluar kelas, kembali ke kos, dengan mahasiswa yang menyibukkan diri dengan organisasi. Baik itu organisasi kampus ataupun organisasi di pesantren. Untuk mahasiswa yang juga nyantri, saya sarankan untuk lebih memprioritaskan organisasi di pesantren, tapi tak menutup kemungkinan juga mengikuti organisasi di kampus. Baik organisasi di kampus atau di pesantren saya kira sama saja, Cuma ada nilai plusnya kalau kalau ikut organisasi di pesantren. Apa nilai plusnya??? Ya... tentunya akan lebih barokah karena didasari semangat pengabdian.hehe,.
Bagi yang masih TRAUMA dengan organisasi segera hilangkan rasa trauma itu, organisasi tak akan membuat kita jatuh. Namun akan membuat kita bangun menjadi lebih baik, menjadi pribadi yang unggul yang siap diterima masyarakat. Entah sekecil apapun organisasi, pastilah akan sangat berguna. Mari kita aktualisasikan diri kita dalam wadah organisasi sesuai minat kita. Insya Allah, akan memberikan dampak yang positif pada diri kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Tulisan ini subyektif, ada kalanya ada yang tak sesuai dengan pikiran Anda. Namun, ambilah saja yang baik-baik dan tinggallah yang buruk-buruk. Karena kebenaran semata hanya milik Allah semata.
Terakhir...
Mari kita budayakan organisasi dengan penuh kesungguhan dan rasa pengabdian.
Bravo....!!!!
Jum’at, 6 September 2013
3 komentar:
sippppppp ... kang
Zo.i mas
Sipz,,,Teruslah berkarya,,smg sukses slalu,,
Posting Komentar