Senin, 15 April 2013

Ku Terima Pilihan Pak Kyai

Oleh: Muhammad Mansur
Sebut saja ia Yudha, laki-laki kecil, tidak tinggi seperti teman-temannya kebanyakan.  Ia adalah siswa kelas VIII MTs Wahid Hasyim Yogyakarta. Dia termasuk salah satu anak yang terhambat pertumbuhan pubertasnya. Bagaikan kembang, dia belum mekar. Ditambah lagi dengan wajah imutnya yang manis, membuatnya ia tampak seperti anak MI. Sejak MI kelas 3 ia ditinggal oleh ayahnya. Ayahnya meninggal karena terjangkit penyakit stroke. Ibunya  sendirian di rumah menanti kesuksesan Yudha kelak. Dengan kepergian ayahnya, kehidupan keluarga Yudha pun menjadi serba kekurangan.
Tak terasa, setelah lulus MTs Wahid Hasyim ia langsung melanjutkan ke MA Wahid Hasyim. Lulus Aliyah, ia melanjutkan kuliah di UIN dengan program beasiswa. Sekarang ia menginjak bangku semester 2. Suatu ketika di pesantren Wahid Hasyim tempat Yudha tinggal, tibalah saatnya malam Rabu. Ustadz Salim datang dengan wajah berseri-seri, serasa sudah siap mengajar dirosah Risalatul Mahid malam itu. Tampak Ardilla, dengan kerudung pink yang menawan dengan silau kacamatanya menambah keanggunan dirinya. Ia adalah teman Yudha sejak duduk di bangku MTs dulu.
Pada saat ngaji berlangsung, mata Yudha  perlahan merapat. Terlelaplah Yudha di meja ngaji nya. Rasa capek dan kantuk tercermin dalam raut mukanya, karena ia menghabiskan waktu siangnya untuk bekerja dan kuliah. Pagi, sebelum kuliah ia berjualan koran di perempatan Janti, dilanjutkan dengan kuliah, dan diteruskan mengajar TPA di sore harinya.
Temannya berbisik, “Lihat, Yudha tertidur tuh?”
“Biarin aja, biar Ustadz Salim tahu, biar tahu rasa dia. Hi..Hi..Hi...” Bisik teman sebelahnya.
Di tengah terlelapnya Yudha, ustadz Salim memberikan pertanyaan kepadanya dengan maksud agar Yudha terbangun.
Seraya bertanya, “Yudha, apa tanda-tanda baligh bagi perempuan?”
Yudha terbangun terperanjat, seperti orang linglung dengan raut muka kemerah-merahan. Yudha menengok kanan kiri, tak tahu maksudnya. Mata semua temannya pun terpusat pada dirinya dan seketika teman-temannya menertawakannya.
“Ha....ha....ha....!!!”
Dan ada satu orang santri putra yang angkat bicara, “Jangankan tanda-tanda baligh bagi perempuan pak, tanda-tanda baligh bagi laki-laki saja nggak tahu pak?” Seisi kelas pun gaduh dibuatnya.
Lagi-lagi ada yang berceloteh, “Maklum, anak kecil kok ditanyain pak? Kan belum baligh.”
Gelak tawa teman sekelas meramaikan suasana kelas. Teman-temannya mempermalukannya di depan umum. Yudha pun termangu, seraya menundukkan kepala, menyimpan rasa malu yang ditanggungnya.
Keesokan harinya, seperti biasa ia bergegas untuk berjualan koran di perempatan Janti. Sebelumnya ia berpamitan dulu dengan teman akrab satu kamarnya, sebut saja Ian. Ia selalu memberikan dukungan atas segala usaha dan jerih payah yang ia lakukan.
“Ian, aku berangkat dulu ya. Doakan biar hari ini korannya laku banyak. Wassalamu’alaikum...” Ungkap Yudha.
“Iya Yudh, tak doakan deh, semoga hari ini laku banyak, Wa’alaikumussalam.”
Terik panas matahari semakin tajam menyorot kulit hitam Yudha. Keringat terus bercucuran dari lehernya, seketika mengusap keringat di lehernya dengan tangan kanannya. Ia  pun memutuskan untuk beristirahat di pinggir trotoar sembari membaca artikel di koran Kedaulatan Rakyat (KR). Ia memfokuskan bacaannya pada sebuah artikel pendidikan yang ditulis oleh mahasiswa UNY. Impiannya melayang, ia membayangkan foto dan tulisannya terpampang di koran itu.
“Aku pasti bisa menjadi seperti ini, aku akan menulis dan suatu saat pasti akan dimuat di koran ini.” Bisiknya dalam hatinya.
Sejak saat itulah tumbuh motivasi menulis dan kegigihan yang tinggi untuk menulis artikel di surat kabar. Hari-hari berikutnya, Yudha selalu mengirimkan tulisannya ke koran KR, berkali kali ia mengirimkan karyanya, walaupun hasilnya nihil. Dia pun hamper putus asa, tak satupun karya yang berhasil dimuat media.
Lalu tibalah malam Jumat. Malam di mana waktu digunakan untuk rapat lembaga. Yudha pun tidak ketinggalan, ia mengikuti rapat LPM Wahid Hasyim untuk membahas acara Takbir Keliling di desa binaan LPM. Kebetulan ia menjadi koordinator seksi acara bersama dengan Ardilla, santri putri dari asrama Halimah yang juga kuliah di UGM. Mereka kompak untuk membahas persiapan acara untuk Takbir Keliling. Ardilla sebenarnya sudah menyimpan perasaan cintanya kepada Yudha sejak ia MTs kelas IX, namun ia tak berani mengungkapkan secara langsung kepada Yudha. Sudah banyak santri putra yang mengungkapkan perasaan cintanya, tapi semuanya ia tolak. Ia hanya mencintai Yudha. Ia memandang sosok Yudha yang gigih dan pantang menyerah dalam menghadapi cobaan yang ada.
***
Dalam perjalanannya, sampai pada kelas Ulya. Yudha pun masih tak tahu bahwa sebenarnya ada orang yang mencintainya di luar sepengetahuannya. Ketika itu satu minggu menjelang wisuda madin, Yudha mendengar kabar bahwa ibunya sakit keras dirumah. Lagi-lagi cobaan menimpa Yudha. Yudha harus pulang. Ketika perjalanan pulang, ponselnya bergetar.
Lalu perlahan ia buka pesan masuk, ternyata SMS dari pamannya.
“Yudhmaaf,  ibumu baru saja berpulang ke Rahmatullah, cepat pulang. Semoga segala amal ibumu diterima di sisinya.”
Membaca tulisan tersebut, tetesan air mata terus mengucur dari kedua kelopak matanya. Ia tak mampu menahan rasa sedih tidak bisa berjumpa dengan sang ibu yang selalu merindukan kesuksesannya. Sampai rumah ia menjumpai sang ibu sudah terbungkus kain kafan.
Ia hanya bisa meratapi kepergian sang ibu, seraya berkata, “Ibu, maafkan aku, aku belum bisa membahagikanmu, semoga engkau mendapatkan tempat terbaik di surga. Aku berjanji bu, aku akan menjadi orang yang sukses seperti harapanmu.”
Teman-temannya berdatangan ke rumahnya untuk memberikan ucapan bela sungkawa, tak terkecuali Ardilla.
Ditengah-tengah kepergian kedua orang tuanya, Yudha tetap berusaha untuk menyelesaikan studinya, walaupun dengan banting tulang berjualan koran, ditambah pekerjaan sambilan yang lain, berdagang baju dan donat di sela-sela kesibukannya mengaji, kuliah dan berorganisasi.
Suatu ketika, HP Yudha bergetar menandakan ada SMS masuk. Ia langsung membuka SMS dengan penasaran.
“Asslkm. Mas, besok tulisan anda dimuat di KR peduli pendidikan tanggal 25 April 2012. Selamat. Dan teruslah berlatih menulis. TTD pengurus Redaksi KR.”
“Horee. Horee, alhamdulillah Ya Allah. Terimakasih Ya Allah….
Dengan bahagianya, Yudha bersorak menunjukkan kebanggaan yang luar biasa. Ekspresi kebahagiannya menutupi kesedihan karena cobaan yang begitu berat yang baru saja menimpa dirinya. Sejak saat itulah, tulisan-tulisan Yudha terus dimuat di surat kabar baik lokal maupun nasional, sehingga dengan honor menulis yang ia peroleh dari media, ia bisa menyelesaikan studi strata satunya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
***
3 tahun kemudian....
Tak lama setelah Yudha lulus S1 di UIN, dia langsung merampungkan S2nya di UNY di bidang pendidikan. Di saat ia merampungkan S2nya, ia sudah menjadi penulis buku best seller dan segera ditarik untuk menjadi dosen di Perguruan Tinggi ternama di Purworejo.
Tibalah saatnya ia harus boyong. Ia pun harus berpamitan pada pak Kyai untuk kepulanganya. Ia pun bergegas menuju ndalem kediaman pak Kyai.
Sini masuk Nak, ada apa kok pagi-pagi kesini. Biasanya kan bapak yang nyuruh kamu kesini. Kok sekarang kamu menyempatkan diri kesini, ada apa gerangan nak…? Tanya pak Kyai.
Hemm…aa..anu pak..Jawabnya bimbang.
Anu anu kenapa…ngomong saja Nak.” Tutur pak Kyai.
Iya pak….saya mau izin pamitan pulang ke rumah pak, Alhamdulillah kuliah S2 saya sudah selesai, ngajinya juga sudah selesai di Ma’had Aly pak. Nyuwun doa restune bapak nggih…”
Nak, Nak Yudha...kok keburu2 pulang…memang sudah punya calon ya….???Tanya pak Kyai.
Yudha pun sambil malu-malu menjawab pertanyaan pak Kyai, “Be..Belum pak…”
Naahh..itu,,,belum dapat calon kok sudah keburu boyong. Mau tidak kamu tak jodohkan dengan Ardilla, santri Halimah. Dia cantik, pinter, hapal Qur’an lagi…hayoo mau tidak?
Yudha pun masih bimbang, dia tertegun sambil berpikir. (Lho…Ardilla kan temenku sejak MTs itu…emang dia mau sama aku? Banyak laki2 yang sudah mengatakan cintanya, tapi ia tolak, apalagi aku)
Bagaimana nak…? Tanya pak Kyai kembali.
Dengan proses berpikir keras, Yudha pun menerima permintaan perjodohan pak Kyai. Mendengarkan jawaban Yudha, pak Kyai  tersenyum dan beliau langsung memanggilkan Ardilla melalui rewangnya untuk menuju ke ndalem.
Seketika Ardilla tiba di ndalem. Ardilla tak menyangka, ternyata di ndalem sudah ada sosok Yudha, laki-laki pujaanya yang ia pendam sejak dulu dalam hatinya.
Nak Ardilla…sini duduk. Nak, kamu mau tidak tak jodohkan dengan nak Yudha.” Dia santri kesayangan pak Kyai.
Ardilla kaget mendengar ucapan pak Kyai…
Dia hanya terdiam dan bingung menjawab pertanyaan pak Kyai, walaupun sebenarnya ia juga mencintai Yudha. Pak Kyai menegaskan lagi pertanyaannya, Bagaimana nak Ardilla, mau tidak dengan nak Yudha?”
Setelah lama berpikir akhirnya, Ardilla tersenyum sambil menjawab, Inggih pak Kyai..”
Pak Kyai pun sangat lega, mendengar jawaban Ardilla.  Iya…sekarang kalian sudah sama-sama mau dan rela kan? Sebelum nak Yudha boyong, kalian persiapkan resepsi pernikannya ya…pak Kyai tunggu undanganya.” Tutur pak Kyai sambil tersenyum.”
Yudha dan Ardilla pun berpamitan dari ndalem menuju asramanya masing-masing. Sebelum Yudha boyong, Yudha dan Ardilla pun menjalin hubungan silaturrahim sampai akhirnya mereka berdua menjadi sepasang kekasih menuju mitsaqon gholizho, yaitu sebuah pernikahan. Memang jodoh adalah rahasia Allah, Allah tahu apa yang terbaik untuk kita. Allah punya cara tersendiri untuk mempertemukan kita pada jodoh yang terbaik.


PERJUANGAN SKRIPSI


Hari-hariku di minggu ini memang penuh perjuangan, terutama memperjuangkan skripsiku. Bagaimana tidak, skripsi yang telah kumunaqosyahkan tertanggal 14 Maret belum juga kelar revisinya. Penguji kedua tak masalah bagiku. Bahkan, bisa di bilang sangat mudah. Revisi skripsi yang kuajukan ke beliau langsung beliau ACC dan menandatangani berita acara revisi skripsi. Betapa senangnya aku kala itu.
Hal itu sangat berbalik ketika aku menemui penguji satu skrispiku. Sungguh tak terpikirkan sebelumnya, beliau langsung menolak mentah-mentah revisiku. Aku pun beliau suruh balik dan memperbaiki skripsiku lagi. Sungguh perasaan yang sangat berbalik dari kejadian yang kualami sebelumnya. Sungguh pahit dan menyakitkan.
Apalagi mendengar perkataan temenku. Kata temenku, kalau revisi belum selesai 1 bulan, maka aku harus mengulang skripsiku dari nol. DARI NOL. Coba bayangkan...betapa miris rasanya ketika aku mengurus skripsi dari awal. Aku sangat takut, betapa tidak hari-hari itu adalah hari-hari akhir untuk revisi ku selesaikan, dan kalau tak selesai maka aku harus mengulang skripsi dari awal.
Alhamdulillah, Allah berkehendak lain. Hari itu, tepat hari Kamis, 11 April 2013. Aku sungguh berikhitiar lahir dan batin. Setelah sholat aku pasti berdoa, dan kubacakan Al Fatihah yang ku khususkan untuk pengujiku. Dengan harapan, segala urusan revisiku dipermudah.
Tibalah saatnya berjuang, aku menemui penguji satu yang terkenal sulit untuk ditemui mahasiswa. Setelah beberapa saat aku menunggu, akhirnya yang ku tunggu sudah datang dan menuju ke ruangaannya. Bergegas ku menuju ruangannya dan menghadap beliau. Langsung ku mendapat kata-kata pahit dan pertanyaan-petanyaan yang menghujam hatiku. Ku berusaha menjawab,walaupun sebenarnya sudah tak kuat ingin segera bergegas keluar dari ruangan itu.
Akhirnya, aku lega...setelah melewati beberapa kali revisi, dan beberapa kali tatap muka dengan beliau, akhirnya beliau mau menyetujui revisiku dan menandatanaganinya. Sungguh perjuangan yang meyakinkan. Tapi tak apalah, dengan begitu akan lebih melatih mentalku dan menjadikan pribadiku menjadi lebih tangguh dalam menghadapi masalah. Perasaanku sungguh bahagia, puas rasanya. Mungkin kepuasanku itu tak akan tergantikan dengan jumlah rupiah berapapun.
Dan ku semakin yakin, bahwa sebuah perjuangan yang sungguh-sungguh maka akan menghasilkan buah yang manis yang akan kita petik.
Yogyakarta, 15 April 2013

Senin, 25 Maret 2013

Terbentang di Bentang Pustaka

-->
Tepat pukul 17. 37 Hpku menandakan ada SMS masuk. Ternyata dari temanku, Rizqi. Temenku yang satu ini adalah orang hebat, ia keluar dari kuliahnya di Amikom dan menempuh jalan yang berbeda dari teman-temannya. Isi SMSnya mengajak aku untuk mengikuti ngobrol bareng penulis penerbit Bentang dan juga shering bareng dengan orang-orang di Penerbit Bentang.
Aku pun, sangat antusias dan menyambut ajakannya dengan baik. Aku insya Allah ikut riz...
Dalam benakku, aku berpikir bakal dapat banyak ilmu nie...aku harus ikut. !!!!
Tiba-tiba ketika aku sholat isya’, terjadi pergolakan batin yang luar biasa dalam hatiku. Antara ikut acara itu dan tidak. Aku pun terus mempertimbangkannya, tak terasa padahal waktu itu dalam keadaan sholat. Hehe,,,g khusyuk banget sholatku ya... J
Kewajibanku disini adalah menunut ilmu/ mengaji. Tapi kenapa aku malah sering ikutan acara di luar saat jamnya santri-santri mengaji. Aku berpikir, aku harus mengaji dan melaksanakan kewajibanku sebagai seorang santri. Tapi ada bisikan lain, aku harus ikut acara itu, buat menambah wawasan dan pengetahuan dalam bidang kepenulisan dan penerbitan.
Setelah lama aku mengalami pergolakan dalam hatiku, akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti acara itu. Dalam batinku, aku merasa bersalah. Ya Allah...maafkan aku, aku tidak menjalankan tugas utamaku sebagai seorang santri yang baik. Bapak ibu, maafkan anakmu...aku juga ingin mengembangkan diri di luar, mendapatkan ilmu yang banyak dari luar. Sekali lagi,,maafkan aku Ya Allah...maafkan aku, bapak ibu..!!!
Setelah aku cari penerbit Bentang Pustaka, aku terasa asing memasuki forum itu. Aku terasa menjadi orang paling aneh, dan ternyata aku orang ilegal. Orang-orang yang berkumpul disitu adalah teman-teman yang mengikuti Akademi Bercerita di Penerbit Bentang dan yang lain adalah pegawai Bantang. Sungguh...MAK DEG hatiku. Aku sudah terlanjur berada dalam forum itu.Hmmm.. Lalu, aku nikmati aja forum itu.
            Saat itu, pembicaranya adalah Mbak Afifah penulis buku Road to Persia dengan moderator Mbak Intan (editor buku nasional, kata Rizqi). Ya...lumayan lah..dari sana aku mendapatkan motivasi dan suntikan suntikan untuk terus menulis, menulis, dan menulis. Tunggu aku Bantang, suatu saat bukuku pasti akan diterbitkan disini. Disini aku sama-sama menuntut ilmu, sama dengan di Pesantren. Bedanya, kalau di pesantren aku dapat ilmu tentang agama, tapi kalau di penerbit Bentang aku dapat ilmu tentang kepenulisan. Terimaksih dech, semuanya,..atas ilmu dan kebersamaan malam ini.
Yogyakarta, 25 Maret 2013

Hari Minggu yang Padat Jadwal

-->
Minggu, 24 Maret 2013 merupakan hari libur yang benar-benar membuatku capek. Badan yang mungil ini seakan tak kuat mengahadapinya. Namun, semuanya bisa berjalan dengan segenap keteguhan dan semangat yang tinggi. Yaah...aku harus banyak bersyukur hari itu, karena waktuku bisa bermanfaat untuk mencari ilmu ataupun menambah pengalaman.
Pagi itu, aku dadakan menerima telfon untuk baca Al Qur’an di acara Rapat Kerja Pengurus PWC NU kecamatan Depok yang bertempat di kelurahan Catur Tunggal. Apa boleh buat dech, aku harus meluncur kesana. Dan karena waktunya udah mepet nie..aku nggak sempet mandi. Hehe...
Sampe disana ternyata tokoh yang hadir adalah orang-orang penting NU, juga pak Camat, perwakilan dari pihak kepolisian dan Bapak H. Maskul Haji, M.Pd.I...Woow,,..belaiu Kakanwil DIY Lho,,,besok kelak aku pasti bisa jadi orang penting kayak beliau...Amin.Hehe. Iya...orang-orang hebat itu mendengarkan aku membaca Al Qur’an..yaaa, semoga mereka nggak tahu, kalo aku belum mandi..Hiihii..
Tak lama, aku izin pulang dulu dan langsung tancap gas menuju WH guna mengikuti training menulis bersama Mas Bramma Aji Putra, seseorang yang menginspirasiku untuk menjadi penulis artikel koran. Bagaimana tidak, namaku udah terpampang di koran sebanyak 14 kali. Ya...cukup membanggakan bagi penulis pemula sepertiku.
Next,habis dhuhur aku langsung terbang ke Bantul tepatnya di sekretariat Komunitas Mata Pena. Disana aku mengikuti program SMS (Sinau Menulis Sampai Iso). Aku bertemu dengan orang-orang pilihan menurutku, mereka adalah mbak Pijer, mbak Isma, mas Rohim, mbak Anis, Tika dan Halimah. Halimah itu adalah cewek pertama yang aku kenal di Mata Pena, dia temennya Faiz, Gozi, Asep di jurusan BSA. Kalau Tika, aku nggak nyangka dia juga ikutan Mata Pena, sudah lama aku kenal wajahnya di kelas Ma’had Aly semester 2, tapi aku baru kenal namanya waktu itu.
Ada lagi, aku tambah kenal dengan orang baru, meraka adalah Umamah, Muyassaroh, Dewi dan lain-lain, aku lupa namanya eE. Muyassaroh, aku kagum dengannya sejak kedatangannya pertama, eE...ternyata dia udah nikah dan punya anak. Memang, wajahnya sie kayaknya belum pantas kalo jadi ibu. Menurutku, dia kok mirip2 dengan Bu Iluk ya,,, Kalo Dewi, aku salut banget nie. Ternyata dia anak Wahid Hasyim juga sama denganku, tepatnya di asrama Tahfidz III. Yang membuat aku kagum lagu nie,, dia datang ke Bantul dengan sepeda coba. Bayangkan, cewek, pakai sepeda dengan perjalanan yang jauh. Luar biasaa deh....!!!
Pada kelas ke 2 itu, kita membahas tentang isu Gender dan perempuan. Pematerinya mbak Nur Isma (Isma Khazee nama penanya). Diskusi demi diskusi berjalan asyik, aku tetap PD walaupun aku cowok sendiri dikelas itu..hehe..Yaaa,..lumayan, aku dapet ilmu dan teman baru di komunitas Mata Pena, trimakasih sahabat-sahabat baruku.
            Akhirnya, aku pulang juga sore itu. Tak terasa udah menjelang isya’. Aku menjalankan agenda selanjutnya menjadi MC (Master of Ceremony) di acara peresmian Masjid Al Fatah Prayan Wetan. Lagi-lagi disana aku bertemu dengan Pak camat untuk ke dua kalinya. Ketika aku melihat perangainya, sepertinya orang paling ngetop dikecamatan Depok itu menatapku. Hmmm..paling dia berpikiran gini, tadi aku melihat pemuda itu menjadi petugas qori’ di acara Raker NU, tapi sekarang aku melihat lagi jadi MC benar  itu pemuda tadi bukan ya. Aku berpikir, kalo beliau berpikir seperti itu. Lalu dalam benakku, aku menjawab, iya pak...aku orang yang sama. Seperti kata orang, katanya aku itu Multi talenta...semuanya serba bisa dan aku selalu tampil di depan ketika ada suatu acara. Ya...moga aja, itu menjadi sebuah prestasiku yang baik.
Aku pun, sukses menjalankan tugasku,,kini aku semakin mahir menjadi MC,..semoga ini menjadi awal yang baik untuk perkembanganku selanjutnya.
Amin...
Yaa..itulah sedikit ceritaku, harapanku ini menjadi motivasiku untuk selalu mengembangkan kemampuanku untuk meraih cita-citaku yang sebenarnya.
Yogyakarta, 25 Maret 2013

Belajar dari Stiletto



Alhamdulillah,...
Sebuah kata untuk mengawali tulisan ini. Karena apa? Aku dapat ilmu lagi...hehe
Kali ini aku dapat ilmu dari Mbak Herlina P. Dewi. Beliau ini adalah editor penerbit Stiletto yang ternyata beliau juga yang punya penerbit itu. Dalam acara yang bertajuk “Kepenulisan Kreatif” di panggung Pesta Buku Jogja 2013 tepatnya Senin, 18 Maret 2013 aku mendapatkan ilmu baru sebagai bekal menjadi seorang penulis.
Sebagai pengantar, beliau menyampaikan bahwa Penerbit Stiletto adalah penerbit yang khusus menggarap buku-buku yang bertemakan perempuan. Waah...kesempatan nie, buat para kaum perempuan, bisa banget nerbitin buku disini. Ayooo... tunjukkan suara perempuan. Hehe..
Apalagi ini, banyak sekali hak-hak kaum perempuan yang perlu diperjuangkan. Ayoo,,tulis...!!!
Ngobrol-ngpbrol lebih lanjut ternyata, peserta menginginkan pembahasan difokuskan aja ke bagaimana cara buat bisa menembus penerbit, alias bagaimana buku kita tidak ditolak penerbit.
Langsung aja nich...
Mbak Dewi menyampaikan sedikitnya ada 8 tips menembus Penerbit, diantaranya:
  1. Kenali karakteristik penerbit yang akan kita kirimi naskah.
  2. Ikuti ketentuan yang ada di penerbit.
  3. Menjual diri. Ups....jangan negatif dulu.
Maksudnya menjual diri itu. Nasib naskah kita, diterima atau ditolak tergantung kita sendiri. Kita harus berani menampilkan diri kita semaksimal mungkin. Contoh nie,..lampirkan biodata penulis dengan lengkap, ditambah foto close up.
  1. Pikatlah editor dengan 10 halaman pertama buku Anda. Maksudnya adalah halaman awal harus benar-banar menarik, dan menggugah dan membuat pembaca serasa ingin terus membacanya.
  2. Naskah yang dikirim adalah berupa naskah matang, jangan sampai masih banyak kesalahan teknik penulisan atau ada kata-kata yang sulit dipahami.
  3. Pastikan naskahnya sampai ke penerbit. Hehe...
Yang ini, urgen banget nie....kalau g sampai gimana mau bisa diterima naskahnya. Ya nggak?
  1. Terus jalin komunikasi dengan baik dengan pihak penerbit.
  2. Yang terakhir, pastinya BERDOA.
Itu ada beberapa tips yang kita bisa praktikkan. Mungkin kalo ada tambahan bisa ditambahi sendiri ya....
Semoga aja bisa bermanfaat, selamat mencoba.
Yuuk,,,kita berlomba-lomba untuk menulis. Tentunya menulis untuk mengajak kebaikan kepada orang lain dan juga untuk menginspirasi orang lain. Salam menulis kreatif....!!!
Yogya, 22 Maret 2013

Kamis, 10 Mei 2012

Lelah Langkah Sang Ibu

Oleh: Muhammad Mansur
Tatkala itu, perempuan tua berumur kurang lebih 55 tahun menggendong anak kecilnya yang sedang balita laki-laki yang begitu manis. Waktu itu sang ibu, sedang beristirahat dari pekerjaaan hariannya yaitu memunguti sampah plastic. Sang ibu itu begitu tegar menghadapi hidup yang begitu menantang itu. Dengan mempunyai anak berjumlah 7orang dengan suami yang mengalami lumpuh fisik karena penyakit Strokenya, kini beliau masih sanggup bertahan hidup sampai saat ini. Sang ibu ini hidup dalam sebuah gubug kecil reot yang terletak di himpitan gedung-gedung bertingkat di Jakarta. Dengan gubug yang sederhana itu pun, ia sangat bersyukur masih mempunyai tempat untuk bernaung keluarganya.
            Sang ibu ini, begitu tegar menjalani profesinya yang dimata orang sangat hina itu. Namun, beliau tidak menganggap itu sebagai profesi yang hina, namun sebaliknya sang ibu itu menganggap profesinya itu sebagai profesi yang mulia, karena sedikit banyak mengurangi volume sampah yang ada diperkotaan. Dan ia pun tidak malu menjalani profesinya, karena setelah suaminya tidak bekerja karena lumpuh, maka sang ibu pun harus turun tangan untuk menghidupi ke tujuh anaknya. Namun nampaknya, sang ibu ini bisa dikatakan beruntung karena anaknya yang menempuh pendidikan bisa mendapatkan beasiswa karena kecerdasannya. Buktinya anaknya yang sulung sekarang sedang kuliah di sebuah perguruan tinggi terkemuka di Jakarta. Dan ia pun, bebas biaya disana, karena mendapatkan beasiswa. Sungguh beruntung sekali, seorang anak pemulung yang bisa kuliah di sebuah universitas terkemuka di Jakarta. Tak jarang, banyak orang yang sudah rela mendaftar kuliah dengan biaya yang besar, namun tidak diterima.
              Kehidupan yang kini begitu menyiksa bagi kalangan bawah bisa dihadapi dengan tegar oleh sang ibu ini. Setiap pagi ia berangkat menyusuri jalan-jalan dan sungai-sungai untuk memunguti sampah plastik. Lalu ia bawa samapah-samapah plastik itu di tempat pemasok. Memang, penghasilan kadang tak tentu, tapi Alhamdulillah rezeki selalu datang dan tidak ada yang mengira bahwa dengan uang yang pas-pasa itu bisa mencukupi kebutuhan keluarganya dengan tujuh anak itu. Sungguh keajaiban yang luar biasa. Lalu, sebenarny ada apa dibalik itu semua? Ternyata, setiap harinya sang ibu itu selalu meyempatkan untuk selalu melaksanakan sholat dhuha, dan selalu membiasakan diri membaca sholat Al Waqi’ah sebelum tidur. Nampaknya, itu menjadi perantara kehidupannya yang bisa di bilang cukup. Nampaknya itu bisa menjadikan contoh untuk kita semua untuk selalu gigih daan tegar menghadapi hidup ini. Dan untuk selalu tidak melupakan sang Pemberi Rizqi yang tidak lain dan tidak bukan adalah Allah SWT. Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi kita semua. Amin.
                                                                        Yogyakarta, 18 Oktober 2011