
Ternyata,
tak hanya satria Baja Hitam yang berubah,
tak hanya Power Ranger, tak hanya Saras 008, Tak hanya sang Saiya, kita
juga pun harus berubah. Mengapa?
“Dunia
Serba Berubah, tidak ada yang kekal. Yang kekal adalah perubahan itu sendiri.”
Begitulah
cara Dr. Sukiman, M. Pd membuka perkuliahan perdana kala itu. Sebuah pernyataan
pendek yang saya sangat sepakat dengan hal itu. Memang segala yang ada di dunia
ini semuanya terus berubah. Perubahan itu meliputi dari fashion dan gaya hidup,
pola berpikir, sarana transportasi, aneka makanan, sampai pada peralatan dan
masih banyak lagi.
Perubahan
itu menuju sebuah kesempurnaan melalui
sebuah inovasi-inovasi di dalamnya. Tak hanya perubahan yang baik, tapi juga tak menutup
kemungkinan pada hal yang buruk. Beliau mencontohkan dalam segi fashion. Kalau orang
Papua, dulu hanya mengenakan baju-baju yang masih fulgar dan primitif, namun
saat ini bisa kita lihat orang Papua mulai belajar berbusana dan semakin
menutupi organ-organ vitalnya. Ini merupakan sebuah sebuah perubahan yang positif. Lain halnya dengan dengan orang-orang perkotaan, Yogyakarta saja
misalnya. Orang-orang Jogja atau perkotaan di zaman dulu masih banyak yang
berpakain dengan lebih tertutup. Namun, seiring dengan perubahan zaman. Busana
yang dulunya tertutup, berubah menjadi busana yang memamerkan anggota tubuhnya.
Ini adalah contoh perubahan yang sifatnya negatif.
Hal diatas masih dalam segi fashion,
belum pada hal-hal lainnya yang semuanya terus berubah. Pun halnya dengan
retorika dan tantangan hidup yang semakin keras. Kita bisa mengambil hikmah dari binatang yang
hidup di alam semesta ini. Contohnya adalah Dinosaurus. Hewan yang sebesar ini
akhirnya punah, akibat tak bisa menyesuaikan diri dengan kondisi alamnya. Konon
ceritanya, Dinosaurus tak mau makan selain makanan yang di kehendakinya,padahal
makanan yag dikehendakinya itu sudah langka bahkan tidak ada. Namun, hewan itu
masih tetap bertahan dengan pendiriannya untuk tak makan selain makanan yang
biasanya ia makan. Akhirnya, Dinosaurus pun mengalami kematian dan akhirnya
punah. Berbeda dengan seekor Gajah yang besar, sampai sekarang masih eksis di
dunia, karena mampu menyesuaikan diri dengan alam. Tak hanya itu, Gajah malah
dibekali kemampuan yang luar biasa. Bisa bermain bola, bermain basket, bisa
bermain hulahop, melakukan peragaan seperti manusia dan seterusnya.
Melihat
kisah diatas berarti untuk bisa tetap eksis di zamannya kita harus mampu
berubah, jangan stagnan dalam hidup. Harus mengalami perubahan terus ke arah
yang lebih baik. Dengan demikian, maka kita akan bisa hidup pada zamannya
nanti. Kuncinya adalah mau berubah. Begitulah kira-kira, semoga kita termasuk
orang yang mau dan mampu untuk terus berbenah dan mengubah diri kita menjadi
orang yang luar biasa.
Depok,
20 Februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar