Rabu, 29 Januari 2014

Sarasehan Guru Madrasah Wahid Hasyim

Mengena, sebuah cerita yang disampaikan oleh bapak Agus Eko Susanto, S.Pd.I pada acara sarasehan guru madrasah Wahid Hasyim. Acara ini digelar hari Selasa, 28 Januari 2014 di Gedung Multipurpose Wahid Hasyim. Beliau menceritakan sosok para Alumni Wahid Hasyim yang sukses dari berbagai latar belakang yang ada.
Diceritakan beliau ada seorang siswa MA Wahid Hasyim bernama mbak Mayada dan mas Syamsul Hadi. Mereka berdua adalah sosok yang berbeda. Mbak Mayada adalah seorang siswa yang memang dari awalnya cerdas. Ketika di Wahid Hasyim pun beliau menjadi siswa yang rajin, tekun dan cerdas.  Karena kecerdasannya, mbak Mayada pun bisa melanjutkan kuliah di UIN Sunan Kalijaga dan bisa meneruskan kuliah di luar negeri (Kairo Mesir). Akhirnya, mbak Mayada pun saat ini bisa menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi di Palu. Mbak Mayada ini adalah salah satu dari sekian banyak alumni Wahid Hasyim yang sukses. Dan memang sudah sewajarnya, kalau orang rajin dan cerdas akhirnya pun menjadi orang yang sukses.
Lain lagi ceritanya dengan mas Syamsul Hadi. Diceritakan oleh bapak Eko, mas Syamsul Hadi adalah siswa yang kurang pintar. Bisa dibilang, dalam hal akademik sangatlah kurang. Namun, ada sisi lain yang menjadi kelebihan beliau yaitu rajin dan jujur. Beliau sangat rajin dan semangat ketika mengikuti kerja bakti di pesantren. Bisa dikatakan, beliau mempunyai banyak peran dalam pembangunan gedung di pesantren. Terkadang, sebagai guru kita hanya memandang sebelah mata siswa yang kurang pintar. Namun, apa yang terjadi? Ternyata, dikabarkan, walaupun dulu ketika sekolah kurang mumpuni dalam bidang akademik, tapi sekarang mas Syamsul Hadi bisa menjadi seorang mandor bangunan sekaligus sebagai kontraktor bangunan. Bapak Eko menambahkan, sekarang ini beliau tinggal di Bali. Saat ini beliau bisa menjadi kontraktor bangunan yang nilainya milyaran. Hal ini, diraihnya dengan tidak mudah. Namun, dimulai dari kerja keras dengan bekal kejujuran. Dulu, yang ketika sekolah tak pintar menghitung, sekarang beliau sudah bisa menggambar bangunan dengan skala dan hitungannya. Itu bisa dilakukannya hanya dengan mengamati mandornya dulu ketika ia menjadi seorang kuli. Subhanalloh…dari seorang kuli bisa menjadi kontraktor.
Dari cerita diatas, sudah selayaknya kita tidak memandang sebelah mata siswa kita. Kita tak tahu nasib kita dan siswa kita nantinya. Yang terpenting adalah terus mendidiknya dengan setulus hati. Memang, mengatakannya mudah namun, pada praktekknya sulit. Tapi, mari kita terus berusaha untuk mendidik siswa kita dengan sepenuh hati. Dengan semangat mengabdi untuk Wahid Hasyim melalui mimbar pendidikan.
Ditambahkan bapak Eko, sebagai guru Wahid Hasyim harusnya kita PD alias Percaya Diri. Proses perjungan simbah Kyai. Abdul Hadi dalam membangun pendidikan di Wahid Hasyim perlu kita apresiasi yang luar biasa. Bisa dibayangkan, yang awal mulanya dari kecil, terus tumbuh dan berkembang menjadi lembaga pendidikan yang besar. Nampaknya, perjuangan beliau harus diteruskan dengan sebaik-baiknya. Diawali dari sebuah rasa PD menjadi guru di Wahid Hasyim. Ketika gurunya PD menjadi guru Wahid Hasyim, sudah barang tentu siswanya pun akan PD menjadi siswa Wahid Hasyim. Rasa PD itulah yang memunculkan sebuah pengabdian yang totalitas dengan terus memperbaiki kinerja kita dalam posisi kita sebagai guru di Wahid Hasyim.
          Bapak Eko juga mengungkapkan, kita sebagai guru Wahid hasyim harus melakukan 3 hal. Yang pertama adalah ubah mindset kita. Bahwa kita harus senantiasa berpikir positif. Karena orang berhasil bermula dari pikiran kita yang positif. Kedua, berucaplah selalu yang baik. Setelah pikiran kita baik, maka kita berucap yang baik. Ucapan kita adalah doa, maka dalam berucap hendaklah yang baik, papar Pak Eko. Ketiga. Bertindaklah yang baik. Dengan berucap yang baik maka tindakan kitapun akan ikut baik. Dengan  ketiga hal demikian kita bisa menjadi figure dan teladan bagi peserta didik kita. Dengan berpikir positif, berucap yang baik, dan bertindak yang baik maka sudah barang tentu hasilnya pun akan ikut baik. Wahid Hasyim akan melahirkan output peserta didik yang unggul dalam budi pekerti dan juga prestasi. Semoga!
===============MOVE ON================
BERUBAH MENJADI LEBIH BAIK
MULAI DARI DIRI KITA SENDIRI
WAHID HASYIM…!!! YES,,I CAN
NB: mohon dikoreksi nggih, kalau ada yang kurang pas…semoga bermanfaat bagi para pembaca. Terimakasih.  J

Oleh:










Muhammad Mansur (santri Wahid Hasyim)



Kamis, 23 Januari 2014

Pesan dan arahan mbah. KH. M. A. SAHAL MAHFUDH...

Teks ini adalah Sambutan dan Pengarahan Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) disampaikan pada Rapat Pleno PBNU tanggal 6-8 September 2013 di Pondok Pesantren UNSIQ Al-Asy’ariyah Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah 

Sumber: http://nu.or.id/

Politik NU sebagai Siyasah 'Aliyah Samiyah

Sebagaimana telah dimaklumi bersama, NU merupakan جمعيّة دينيّة إجتماعيّة (organisasi keagamaan yang bersifat sosial). Sebagai organisasi keagamaan Islam, tugas utama NU adalah menjaga, membentengi, mengembangkan dan melestarikan ajaran Islam menurut pemahaman أهل السّنّة والجماعة di bumi nusantara pada khususnya dan di seluruh bumi Allah pada umumnya.
Tugas ini tidaklah sederhana, di tengah-tengah era keterbukaan yang memberi peluang masuknya aliran-aliran dan kelompok-kelompok keagamaan yang cenderung memanfaatkan kebebasan untuk mencaci maki dan menyesat-nyesatkan (تضليل), bahkan menkafir-kafirkan (تكفير) terhadap pihak lain yang berbeda pemahaman keagamaan dengan dirinya. Padahal seharusnyalah era keterbukaan dan kebebasan membuat setiap kelompok semakin memantapkan sikap toleran (تسامح­) dalam menyikapi perbedaan.
Alangkah dalamnya makna ungkapan Al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i dalam kaitan ini:
مذهبنا صواب يحتمل الخطأ, و مذهب غيرنا خطأ يحتمل الصواب
(Pendapat saya benar namun mungkin memuat kesalahan, pendapat orang lain salah namun mungkin juga ada benarnya: Red)
Menghadapi kenyataan yang tidak menggembirakan tersebut, menjadi tugas PBNU untuk menggerakkan secara optimal perangkat organisasi yang terkait dengan fungsi menjaga, mengembangkan dan melestarikan ajaran Islam ASWAJA, seperti mendorong optimalisasi peran dan kinerja Lembaga Dakwah NU (LDNU), Lembaga Takmir Masjid NU (LTMNU) dan Lajnatut-Ta’lif wan-Nasyr NU (LTNNU). Dengan pendekatanحكمة dan وعظة حسنة dapat dipelihara kelangsungan ajaran ASWAJA, tanpa harus terlibat dalam tindakan-tindakan anarkhis yang sangat merugikan citra paham ASWAJA sebagai representasi ajaran Islam رحمة للعالمين
Sebagai organisasi sosial (جمعيّة إجتماعيّة), NU harus mencurahkan perhatiannya secara serius pada bidang sosial, seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan, pertanian dan lain-lain yang menjadi problem kehidupan sehari-hari warga, masyarakat dan bangsa.
Hal ini perlu diingatkan, menjelang tahun 2014 yang merupakan tahun politik bangsa kita, karena dikhawatirkan tidak sedikit pengurus NU di berbagai tingkatan yang memperlakukan NU seakan-akan sebagai sebuah partai politik (حِزْبٌ سِيَاسِيٌّ), yang bergerak pada tataran politik praktis alias politik kekuasaan.
Politik kekuasaan yang lazim disebut politik tingkat rendah (low politics/سياسة سافلة) adalah porsi  partai politik dan warga negara, termasuk warga NU secara perseorangan. Sedangkan NU sebagai lembaga, harus steril dari politik semacam itu. Kepedulian NU terhadap politik diwujudkan dalam peran politik tingkat tinggi (high politics/سياسة عالية سامية ), yakni politik kebangsaan, kerakyatan dan etika berpolitik.

Politik kebangsaan berarti NU harus إستقامة dan proaktif mempertahankan NKRI sebagai wujud final negara bagi bangsa Indonesia. Politik kerakyatan antara lain bermakna NU harus aktif memberikan penyadaran tentang hak-hak dan kewajiban rakyat, melindungi dan membela mereka dari perlakuan sewenang-wenang dari pihak manapun.
Etika berpolitik harus selalu ditanamkan NU kepada kader dan warganya pada khususnya, dan masyarakat serta bangsa pada umumnya, agar berlangsung kehidupan politik yang santun dan bermoral yang tidak menghalalkan segala cara.

Dengan menjaga NU untuk bergerak pada tataran politik tingkat tinggi inilah, jalinan persaudaraan di lingkungan warga NU (أخوّة نهضيّة) dapat terpelihara. Sebaliknya,manakala NU secara kelembagaan telah diseret ke pusaran politik praktis, أخوّة نهضيّة akan tercabik-cabik, karenanya نعوذ بالله من ذلك!
Oleh karena itu, sinyalemen adanya Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah di beberapa daerah yang dicalegkan dan lain sebagainya, wajib mendapatkan respons yang sungguh-sungguh dari Rapat Pleno ini, sesuai dengan ketentuan AD/ART tentang larangan rangkap jabatan.

Kiranya inilah pesan dan arahan yang perlu kami sampaikan.
DR. KH. M. A. SAHAL MAHFUDH
Rais ‘Aam PBNU


Rabu, 22 Januari 2014

Berbagi Cerita dan Motivasi di SMP N 4 Depok


      Kali ini, saya diberi kesempatan untuk mengisi acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMP N 4 Depok. Acara berlangsung pada hari Sabtu, 18 Januari 2014. Sungguh, tak mengira ternyata jumlah pesertanya luar biasa. Gedung sekolahpun sesak terpenuhi oleh para siswa.
          Dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tepat kiranya ketika saya banyak bercerita tentang sosok nabi yang memang menjadi teladan bagi umat manusia. Beliau adalah sosok yang sabar dan pemaaf. Beliau tak pernah membalas ketika di cemooh oleh musuhnya, malah sebaliknya nabi mendoakannya. Sungguh mulia sifat nabi.
          Beliau juga sosok yang murah senyum terhahap orang lain. Tak pernah terlihat muka yang masam ketika beliau dihadapan orang lain. Telah jelas dalam hadist “Tabassumuka fi wajhi akhika laka shodaqoh” artinya tersenyum dihapan sauadaramu adalah shodaqoh. Sedemikian penting ternyata, sebuah senyuman dianggap sebagaimana amalan shodaqoh.
Makanya kawan-kawan, jangan pelit senyum dech,…
Mungkin murah senyum adalah hal termudah yang bisa kita tiru dari sosok nabi Muhammad SAW.
          Nabi SAW juga merupakan sosok pemimpin yang menjadi teladan bagi siapa saja. Beda dengan pemimpin sekarang, yang dalam  kinerjanya penuh dengan kebohongan dan ketidakadilan. Nampaknya, pemimpin bangsa ini perlu mencontoh pola kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Karena beliau adalah sosok pemimpin yang adil, jujur, amanah, dan tanggungjawab.
          Kalau kita bicara sosok nabi, maka tidak aka nada habisnya untuk diceritakan. Banyak sekali hal yang perlu kita contoh dari sosok beliau. Mari kita bersama-sama berusaha dan saling mengingatkan untuk senantiasa melaksanakan apa yang yang diajarkannya kepada kita semua. Akhirnya, semoga kita termasuk  hambanya yang kelak mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat. Amin.

                                                          Depok, 22 Januari 2014





Training Jurnalistik Komunitas TDA Kampus Jogja


Kali ini, saya diberi kesempatan untuk mengisi acara Training Jurnalistik untuk teman-teman TDA Kampus Jogja. Acara berlangsung pada hari Sabtu, 21 Desember 2013 di kantor secretariat TDA Kamus Jogja. Sungguh, hal yang luar biasa bisa berjumpa dengan  kawan-kawan dari kampus yang berbeda dan tentunya juga mempunyai latar belakang yang berbeda pula.
Sebeleum masuk ke sesi materi, saya mencoba untuk memberikan motivasi terlebih dahulu, harapannya agar mempunyai keinginan kuat untuk menulis. Proses menulis itu pun tak akan terjadi ketika kita tak ada keinginan untuk menulis.
Pada sesi materi, saya mencoba untuk memaparkan bagaimana cara menulis artikel di media massa, berikut cara mengirimkannya. Selain itu, hal yang penting disampaikan adalah bagaimana karakteristik media massa.



Sebenarnya, menulis di media adalah hal yang sepele namun terkadang menulis sudah terlanjur menjadi momok bagi seseorang. Dan inilah yang sebenarnya harus dirubah. Menulis itu mudah, ketika kita mau belajar. Sama halnya belajar sepeda. Ketika kita kecil, kita sering menganggap bahwa untuk bisa naik sepeda itu sulit. Namun, kesulitan itu juga akan hilang ketika kita mau belajar dengan sungguh-sungguh.
Untuk itu, mari kita terus belajar menulis. Kunci untuk bisa menembus media kuncinya sebenarnya hanya 3, yaitu:
1.  Coba dulu
Kita terkadang bingung  bagaimana bisa menembus media, ragu dan pesimis kira-kira tulisannya bakal dimuat tidak. Namun, kita tak perlu khawatir, yang terpenting adalah coba dulu. Seperti pepatah mengatakan, lebih baik Mencoba tapi gagal, daripada Gagal mencoba.
2.  Coba lagi
Lalu, bila tulisan kita gagal dimuat. Bagaimana? Haruskah kita frustasi, putus asa, lantas bunuh diri. Tidakk,,jawabannya adalah coba lagi. Cobalah menulis kembali, dan kirimkan kembali.
3.  Coba terus
Ternyata, jika sudah mencoba masih gagal lagi. Apa yang harus dilakukan? Yaitu, coba terusssss…Pokoknya coba terus.
Belajarlah dari kegagalan, terus lakukan evaluasi tentang tulisan kita. Terus belajar memperbaiki tulisan kita, dan coba untuk terus mengirimnya. Pasti suatu saat tulisan kita bakalan dimuat. Dan kita akan merasakan sebuah kepuasan yang tak ternilai harganya.

Selamat mencoba… Bravo,…!!!


                                                         Depok, 22 Januari 2014

Kamis, 16 Januari 2014

PP Wahid Hasyim Gaten Peringati Maulid Nabi dengan Kirab Budaya

G nyangka juga...
Ternyata liputan  tentang Kirab Budaya dimuat juga di Web Kemenag.
Makasih dech..buat Kemenag DIY yang sudah rela memuat beritanya, khususnya pada Humas Kemenag DIY, mas Bramma Aji Putra, beliau adalah  guru menulisku.

Bagi para pembaca yang ingin melihat beritanya bisa dilihat di Web Kemenag yaa...



Rabu, 15 Januari 2014

Warga Gaten Gelar Kirab Budaya



Alhamdulillah...

Akhirnya rilis beritanya dimuat juga..

Namun, sayang tidak semua tulisan dimuat. Ada point2 penting tentang pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW, dan moment peringatan seabad dibangunnya Masjid Jami' Gaten tak tertuliskan.
Hmm..ga' masalah dech...yang penting sudah turut membantu warga kampung Gaten, paling tidak untuk publikasi acara. Selamat dan Sukses, kepada para panitia warga kampung dan santri PP. Wahid Hasyim. Semoga semakin guyup rukun, ayem tentrem. Amin Amin. :)

Senin, 30 Desember 2013

REFLEKSI TAHUN 2013 “Untuk Menggapai Mimpi 2014”


Satu tahun ada 12 bulan, 1 bulan ada 30 hari (rata2), jadi kira-kira satu tahun terdapat 360 hari. Namun, tak terasa waktu memang berjalan cepat. Hari demi hari silih berganti sampai pada akhirnya berganti tahun. Hasil yang kucapai di tahun 2013 merupakan proses yang jalani selama itu. Namun, sudahkah itu maksimal?
Melihat kebelakang, ada beberapa point penting yang harus dipikirkan kembali dengan sebuah refleksi diri. Refleksi sebagai satu proses merenung, menganalisis dan mencari alasandan tindakan untuk memperbaiki diri yang dilakukan secara berterusan.



Ada beberapa catatan penting di tahun 2013:
  1. Selama tahun 2013, masih saja kesulitan tentang bagaimana memanage waktu. Diantara kegiatan –kegiatan atau kesibukan yang ada sebenarnya ada waktu senggang yang belum digunakan secara maksimal. Tentunya ini menjadi hal yang harus diperbaiki untuk tahun depan.
  2. Dari sisi kemanfaatan untuk orang lain. Hal ini tentunya juga masih jauh dari harapan. Selama ini masih banyak membutuhkan bantuan orang lain, daripada membantu orang lain. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanafaat untuk orang lain.
  3. Berkaitan tentang pencapain karya, saya sudah bersyukur sudah menghasilkan karya, walaupun jumlah karya juga masih jauh dari harapan. Maklum, masih dalam taraf belajar atau pemula. Ini menjadi pijakan awal, untuk terus berkarya dan terus berkarya. Kedepan, semoga tulisan bisa tembus di Koran KOMPAS.
  4. Puji syukur kepada Allah ditahun 2013 saya banyak ketemu orang-orang hebat yang mampu memberikan spirit dan terus memberikan inspirasi bagi saya. Tentunya tak dapat disebutkan satu persatu. Terimakasih atas semuanya, semoga bisa terus membawa manfaat buat orang lain.
  5. Tingkat kepercayaan diri sudah mulai lebih terbangun. Terimakasih sudah memberikan kepercayaan kepada saya untuk terus bisa bermanfaat untuk orang lain. Mulai dari memberikan training jurnalistik, training motivasi, dongeng, dan juga qiro’ah. Semoga potensi potensi yang ada terus bisa dikembangkan lagi di tahun 2014.
Untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada, setidaknya di tahun depan harus melakukan beberapa hal:
1.      Qiro’ah
-          Lebih intensif belajar dengan para qori’ dan qoriah yang sudah mumpuni.
-          Latihan mandiri dengan teratur
-          Olah vokal dan latihan nafas
-          Sering mendengarkan rekaman-rekaman qiroah
-          Jangan malu untuk belajar dengan yang lebih bisa.
2.      Dongeng
-     Latihan dengan master-master dongeng. Banyak para pendongeng-pendongeng senior yang ada di Jogja, tentunya aku nggak boleh malu untuk belajar sama beliau.
-     Olah vokal
-     Belajar menirukan suara tokoh, suara alam, kejadian dan suara makhluk hidup. (untuk lebih menghidupkan cerita)
-     Latihan rutin. (berkenaan dengan mimik, gerak tubuh bisa dilakukan didepan kaca)
-      Mencari referensi-referensi cerita yang mempunyai pesan hikmah yang bagus dalam rangka membangun moral dan budi pekerti anak-anak. Karena mereka juga tanggung jawab kita.
3.      Training motivasi’
-    Selalu belajar dan menggali ilmu pada master trainer. Sekali lagi HARUS tidak malu bertanya.
-     Memupuk motivasi diri terlebih dahulu. Bagaimana akan memberikan motivasi kepada orang lain, jika kita sendiri tidak mempunyai motivasi.
-  Belajar lebih lanjut tentang ICE BREAKER dalam rangka menunjang acara training, sehingga tak membosankan dan pesan mampu diterima oleh audience.
-   Jangan malu untuk mencoba, kesuksesan berawal dari kegagalan. Belajar kenapa kita gagal akan menunjang sebuah kesuksesan untuk selanjutnya.
-          Banyak membaca buku-buku psikologi dan omotivasi.
4.      Training jurnalistik
-      Lebih produktif lagi dalam menulis dan membuahkan karya.
-    Jangan malu untuk belajar dengan orang lain yang lebih mumpuni dalam hal ini. (fokus: penulisan artikel ilmiah populer)
-    Banyak update info terkini, baik dari media massa atau elektronik.
-    Banyak membaca.
-   Mencari cara-cara/ trik trik hebat yang mudah dipahami dan diaplikasikan oleh peserta training lebih khusus tentang bagaimana cara menulis artikel di media massa.
-   Di tahun 2014, saya pingin nerbitkan sebuah buku tentang kepenulisan artikel.
  1. Selama tahun 2013 ternyata belum bisa berbuat banyak dalam rangka membahagiakan orang tua. Baik itu dari prestasi atau materi. Ke depan semoga bisa membuat orang tua bahagia dengan prestasi, syukur-syukur dengan materi. Terkadang juga masih lupa mendoakan mereka, padahal mereka adalah segalanya bagi saya.
  2. Terkait perkuliahan di kampus dan menuntut ilmu di pesantren juga kiranya kurang maksimal. Kurang bisa fokus memperhatikan mateti yang disampaikan. Kedepan, harus lebih serius lagi. Mumpung masih muda, terus perbanyak ilmu. Hehe.
Tentunya kalau ditulis semua tak cukup 1-2 halaman, yaa… setidaknya ini menjadi sebuah refleksi diri dalam menghadapi tahun 2014 yang akan datang. Sesekali terbersit dalam pikiran, tahun 2014 ingin nikah. Tapi setelah dipikir-pikir ulang, masih terlalu cepat. Umur juga baru 22, profesi juga belum jelas, bahagiakan ortu juga belum dan masih banyak mimpi mimpi yang belum tercapai. Jadi nggak usah mikir-mikir gitu-gituan dulu ahh…fokus dulu nuntut ilmu, perbanyak wawasan dan pengalaman untuk bekal masa depan.
Aku yakin, di tahun 2014: SAYA… MUHAMMAD MANSUR (dg PDnya.haha) akan semakin SUKSES, Mimpi –mimpi yang saya tuliskan di buku agenda saya akan saya raih satu demi satu. Tentunya dengan ****USAHA-DOA-RIDHO  ORANG TUA***** semuanya akan terwujud. Amin.


Purworejo, 31 Januari 2013
Muhammad Mansur




Minggu, 22 Desember 2013

Nak, Kembalilah...!!!

Pagi yang cerah itu, Aldi hendak berpamitan kepada orang tuanya menuju kota pelajar, kota Jogjakarta. Saat itu, Aldi diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Jogjakarta. Dengan wajah haru bercampur perasaan bahagia, pamitlah Aldi kepada kedua orang tuanya.
“Ibu, Aldi pamit dulu yaa….minta doa restunya nggih pak, bu..!!! ucap Aldi.
“Iya le…ati ati ya… ning Jogja sing tenanan belajare. Ibu Bapak bantu doa, mugi lancar ya le..”” tutur ibunya.
 Terlihat juga, anggukan bapak dengan raut muka yang optimis memantapkan keputusan putranya untuk kuliah di Jogja.
Oo.. iya le, Ibu pesen..ati-ati srawung kaleh koncone nggih, pinter2 anggenipun bergaul.” Tambah tutur ibunya.”
Nggih bu..Aldi pamit riyen. Assalamu’alaikum” Jawab Aldi.
Terlihat raut muka Aldi yang penuh optimis menatap masa depan. Aldi memang anak yang rajin, bagus perangai dan tutur katanya, dan berbakti kepada orang tuanya.
Berangkatlah Aldi seorang diri menggunakan kereta Prameks dari Purworejo tempat kelahirannya menuju kota Jogja. Kebetulan saat itu, dia diterima kuliah pada progam studi Matematika pada salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Kota Jogjakarta.

1 tahun kemudian….
Tak terasa, Aldi sudah berhasil menempuh kuliahnya selama 2 semester dalam kurun waktu 1 tahun. Saat ini pun Aldi beranjak di semester III. Pada semester I dan II, perjalanan akademiknya tak mengalami masalah, semua mata kuliah dilibas habis dengan memperoleh nilai diatas rata-rata teman-temannya. IPKnya pun selalu cum load. Namun, sejak semester tiga ini kenallah Aldi dengan teman-teman barunya yang ia jumpai ditempat-tempat nongkrong dekat kampusnya. Aldi termasuk orang yang mudah bergaul dan berinteraksi dengan teman temannya. Akrab dan semakin akrab, kondisi pertemanan mereka pun semakin menyatu. Namun, sayang teman barunya ini adalah para preman-preman yang sering nongkrong di dekat kampusnya.

Para preman –preman itu pun menggunakan kesempatan baik itu untuk menambah personel mereka. Mereka berlagak baik kepada Aldi. Nyatanya, Aldi sering diajak makan gratis oleh preman-preman itu. Kondisi Aldi yang memang berasal dari kalangan kurang mampu pun, menjadikan Aldi senang, uang kiriman yang sedikit itu pun bisa ia simpan, lantaran sering kali Aldi diajak makan gratis oleh para preman itu. 
Suatu saat, preman-preman itu mengajak Aldi kesuatu tempat. Namun, mereka tak menyebutkan pergi kemana. Aldi pun menuruti ajakan para preman itu. Dan ketika sampai di suatu tempat, Aldi pun terperanjat dan kaget, ternyata dia berada di sebuah nigh club, hiburan malam atau sejenisnya. Aldi pun sebenarnya tak mau masuk ke tempat maksiat itu. Namun, karena dipaksa, akhirnya Aldi tak kuasa menolak keinginan preman preman itu.
Dentuman suara bas yang dahsyat, lampu hip hop yang berwarna warni, dilengkapi para wanita-wanita mempesona turut meramaikan malam itu. Aldi pun lama kelamaan terbawa dengan suasana, ia pun melupakan nasehat yang dulu pernah ibu katakan kepadanya. Para preman itu pun berusaha mencekokinya dengan minuman keras. Godaan syaitan yang begitu besar pun menghinggapi diri Aldi, dan akhirnya ia meneguk beberap gelas  minuman keras. Pikirannya pun terbang melayang, seakan hidup di dunia lain. Tak ingat lagi tentang apa yang menjadi amanah yang harus ia emban selama di Jogja. Mata semakin memerah seraya berjalan dengan sempoyongan, sambil menikmati gemerlapnya dunia hiburan.  Sejak saat itulah, Aldi berubah. Bukan menjadi Aldi yang dulu yang tekun beribadah, rajin dan berprestasi. Malam-malam pun banyak ia habiskan dengan para preman itu.
Teman-temannya pun bertanya tentang keberadaan Aldi yang sudah berbulan bulan tak masuk kuliah. Nomer HPnya pun tak bisa dihubungi, lantaran HPnya ia jual untuk berfoya-foya dengan para preman itu. Ibunya pun turut resah, kenapa tak ada kabar dari putra tercintanya, karena biasanya setiap bulan memberikan kabar kepadanya, entah itu tentang aktivitasnya, kondisi perkuliahannya, atau sekedar curhat tentang permasalahannya.
“Pak…Aldi kenapa ya…kok ndak ada kabar beberapa bulan ini.. wonten nopo nggih pak…??? Tanya sang ibu kepada bapak.
Mpun tow bu, ndak usah dipikirkan. Anak kita ini sudah dewasa bu, mungkin sibuk dengan kuliah atau organisasinya di kampus, jadi ndak sempat ngasih kabar.” Jawab sang ayah menenangkan Ibu Aldi.”
Tapi pak..??? wong HPnya saja ndak aktif..hmm..ya sudah lah pak.semoga tak terjadi apa-apa….!!! Sahut sang ibu.

 Suatu ketika di malam hari….
Aldi kembali berada di tempat hiburan malam yang biasanya ia menghabiskan waktu disana. Waktu itu menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Aldi dan para preman itu masih terhanyut dalam nikmatnya dunia malam, semakin larut maka semakin nikmat. Ketika itu ibu Aldi pun terbangun dan menunaikan sholat malam, seraya berdoa agar putranya  tercinta.
Ya Tuhan…jadikanlah putraku Aldi putra yang sholih, istiqomah dalam menghadapmu. Berilah kesehatan dan keselamatan kepadanya dari segala godaan yang menghadang. Jadikanlah ia, anak yang rajin dan pandai dan kelak bisa meraih apa yang dicita-citakannya. Jikalau, putraku berada dalam jalan yang sesat, kembalikanlah ia ke jalan yang lurus, jalan yang engkau ridhoi. Kembalilah anakku ke jalan TuhanMu..dst…)
(Sang ibu pun terus berdoa seraya meneteskan air mata dari kedua kelopak matanya, raut muka yang mulai keriput pun terlihat jelas, air mata itu membasahi pipinya dan menetes sampai diatas sajadah)
Tatkala sang ibu berdoa, ternyata bersamaan ketika Aldi akan meneguk minuman keras itu. Dan entah tak tahu kenapa, Aldi langsung teringat ibunya yang ada dirumah. Dia langsung kaget dan terperanjat, minuman keras yang ada dalam genggamannya pun terlepas dan jatuh ke lantai dengan bunyi yang keras. “Pyarrrrrrrr……..krumpyang………!!!! seketika orang-orang pun melihat kejadian itu dengan kaget.
Tidakkkkkkkkkkkkkk………tidakkkk…..kenapa aku disini. Ibuuuuuu…ibuuu……”teriak Aldi.
Dia kemudian berlari keluar sambil meneriak neriakkan ibunya. Para preman tadi pun membiarkan Aldi berlari keluar, karena mereka dalam kondisi tak sadarkan diri.
Aldi pun berlari dan menyusuri sepanjang jalan yang sepi, hanya lampu-lampu kota dan beberapa kendaraan yang lalu lalang malam itu.
Dia merenungi dirinya seraya menangis, meneteskan eluh yang tak henti-hentinya. Ia sesali perbuatan yang selama ini ia lakukan. Ia teringat oleh nasihat-nasihat yang ibunya katakana kepadanya. Ia teringat akan masa kecilnya, ketika ibunya mengurusnya dengan tulus ikhlas, menyuapinya dan memandikannya dengan penuh kesabaran, ketika ibunya mengajarinya berbicara, membaca, dan menulis, sampai bapak ibunya membiayainya untuk bisa bersekolah, walaupun dengan jerih payah yang luar biasa. Ia teringat ketika ibunya berjualan sayur di pasar dengan tetesan keringat dari keningnya. Ia teringat jerih payah ayahnya sebagai pengayuh becak, yang berjuang keras mencari nafkah supaya putranya bisa sekolah. Ingatan-ingatan masa kecil dengan ayah ibunya menghantui pikirannya dan terus terpirkan. Tetes demi tetes air mata pun terjatuh dari matanya yang sayup sayup, membasahi jalan aspal itu.
Aldi pun berhenti pada sebuah trotoar yang sepi, dia duduk dipinggir jalan seraya merenungi apa yang telah dilakukannya selama ini. Aldi bertaubat atas kesalahannya selama ini, dia berkomitment akan kembali ke jalanNya dan akan selalu melakukan apa yang dipesankan kepada orang tuanya. Dia juga teringat pada sebuah kata yang tertempel di sebuah bangunan di kampusnya, Anglaras ilining Banyu, Angeli Ananging ora keli. Ucapan Sunan Kalijogo itu artinya kurang lebih mengajak kita untuk menyelaraskan diri dengan arus zaman, tapi jangan sampai terhanyut dalam arus itu. Dia punya komitmen akan tetap menggauli para preman itu dengan tidak hanyut dalam perbuatan buruk yang dilakukannya, tapi sebisa mungkin dengan perlahan, dia akan merubah para preman itu menuju jalan yang lurus menuju jalan yang diridhoiNya.
Terimakasih atas nasehat dan doa ibu, sehingga Aldi kembali di jalanNya.
Sungguh mulia, jasa-jasa sang ibu...""""""
****SELAMAT HARI IBU***


Depok, 23 Desember 2013.
Penulis,

Muhammad Mansur




Jumat, 20 Desember 2013

Resentralisasi Pendidikan: SebuahTawaran Solusi (METRO RIAU 20/ 12/ 2013)


Resentralisasi Pendidikan: SebuahTawaran Solusi

Problematika pendidikan di Indonesia tak ada hentinya bergulir. Pendidikan menjadi satu topik yang tak ada habisnya untuk dibicarakan. Penuh dengan permasalahan permasalahan dan sejatinya memang harus dicarikan solusinya. Seperti yang telah kita tahu bahwasannya pola pendidikan di Indonesia memakai pola desentralisasi pendidikan. Dengan adanya pola ini, maka pemerintah kabupaten/ kota bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan daerahnya. Hal ini berlandaskan pada Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.  Kebijakan ini berimbas pada porsi kewenangan daerah menjadi lebih besar dalam  mengelola pendidikan didaerahnya daripada pemerintah pusat.
            Adanya sistem desentralisasi pendidikan tak terlepas dari permasalahan baru yang muncul. Faktanya di lapangan, ternyata koordinasi antara Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pendidikan Propinsi, dan Dinas Pendidikan Kabupaten/ Kota masih lemah sehingga terjadi keterkaitan yang hilang (missing link). Kondisi ini bisa kita lihat, misalnya: terjadinya keterlambatan informasi dari pusat ke daerah tentang berbagai kebijakan baru, pelaporan dari sekolah ke propinsi/ kota  ke pusat terkadang tidak disampaikan secara cepat,  selain itu distribusi dana seringkali mengalami kebocoran ditengah jalan, sehingga jumlah yang diterima daerah di lapangan tak sesuai dengan jumlah yang seharusnya tercantum di pusat.
Akibat adanya kebijakan desentralisasi pendidikan, muncul banyak raja-raja kecil di daerah. Raja-raja kecil itu adalah pemangku kekuasaan yang ada di daerah yang menggunakan kekuasaannya demi kepentingan pribadinya. Adanya kewenangan yang diberikan kepada pemerintah daerah untuk mengelola pendidikan tentunya menjadi lahan empuk untuk dijadikan sasaran. Pendidikan pun dijadikan sebagai proyek besar para penguasa dan menjadi sasaran utama untuk merauk keuntungan. Akhirnya, praktik praktik korupsipun menjalar sampai daerah.
Kondisi diatas menjadi bahan evaluasi untuk merubah pola pendidikan untuk beralih kembali menjadi resentralisasi pendidikan. Dalam artian, mengubah kembali kebijakan desentralisasi pendidikan menjadi sentralisasi pendidikan yang dulu pernah dilakukan sebelumnya. Dengan demikian, urusan pendidikan kembali lagi diserahkan kepada pemerintah pusat mengingat urgensi pendidikan bagi masa depan. Setidaknya, ini menjadi sebuah tawaran solusi  dalam rangka memperbaiki pola pendidikan di Indonesia. 
Kembalinya pola pendidikan menjadi sentralisasi, tentunya tidak serta merta dilakukan, namun harus terus dilakukan kajian mendalam dan evaluasi kebijakan. Dengan demikian, pola sentralisasi pendidikan tidak menimbulkan permasalahan-permasalahan baru. Memang, resentralisasi pendidikan menunjukkan kemunduran otorisasi pendidikan oleh daerah karena porsi daerah menjadi berkurang dalam mengambil peran mengelola pendidikan. Namun, dalam resentralisasi pendidikan  tak menutup kemungkinan pemerintah pusat memberikan sedikit porsi untuk daerah dalam mengelola aspek-aspek tertentu. Aspek tertentu yang dimaksud misalnya dalam menyesuaikan muatan kurikulum sesuai dengan kondisi dan potensi lokal di daerahnya. Hal ini dikarenakan karena faktanya kondisi dan potensi masing-masing daerah tidak sama, sehingga hal ini perlu disesuaikan. Hanya saja koordinasi dan pengawasan harus benar-benar dimaksimalkan sehingga tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Sedangkan terkait kebijakan anggaran/ dana pendidikan serta tenaga pendidik sudah seharusnya menjadi kewenangan pusat dalam pengelolaannya.
Dalam menjalankan pola pendidikan sentralisasi, setidaknya pemerintah pusat harus merencanakannya dengan matang-matang sebelumnya, sehingga dalam pelaksanaan nantinya bisa berjalan dengan lancar. Pemerintah harus mempertegas kembali pola koordinasi dari pusat sampai daerah, terlebih dalam masalah anggaran pendidikan yang terkenal riskan. Dengan resentralisasi pendidikan, paling tidak menjadi sebuah solusi pengelolaan pendidikan yang lebih baik daripada terjadi benturan dan politisasi pendidikan di daerah daerah yang merugikan bangsa ini.

*) Muhammad Mansur,S.Pd.I Peneliti di Prodi Pendidikan Islam pada Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 

Senin, 16 Desember 2013

Mari Belajar Matematika Korupsi (METRO RIAU, 16/ 12/ 13)


Mari Belajar Matematika Korupsi

Kegelisahan masyarakat Indonesia semakin dalam menyusul berita korupsi yang tak pernah usai diberitakan media massa ataupun elektronik. Satu per satu elit politik, pemangku kekuasaan terjerat dalam kasus korupsi yang semakin menjadi jadi. Uang seakan sudah menjadi Tuhan. Dengan uang apa saja bisa dilakukan. Bahkan, wanita pun bisa dibeli dengan uang. Mungkin itulah pola pikir para koruptor negeri ini. Dengan demikian, para pejabat pemerintah menggunakan kesempatan untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya selama ia menjabat.
Jika dihitung-hitung, gaji para pejabat pemerintah tak akan cukup untuk membeli sejumlah mobil mewah dan rumah megah tanpa melakukan sebuah tindakan bernama korupsi. Kalau dihitung,  gaji selama ia menjabat tak akan bisa menutup biaya pencalonannya untuk bisa meraih kursi empuk di pemerintahan. Lalu, korupsilah yang menjadi satu-satunya jalan untuk menutup biaya-biaya yang telah begitu banyak  dikeluarkan demi sebuah kekuasaan. Itulah namanya matematika korupsi. Pengeluaran yang besar harus ditutup dengan pemasukan yang besar pula.
Satu hal yang perlu di soroti adalah kenapa korupsi ini terus terjadi di negeri ini? Terlebih dilakukan oleh kaum muslim yang tidak sepi dari pelajaran agama. Bisa dipastikan sejumlah tikus-tikus koruptor pernah mengenyam pendidikan agama. Bukankah agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan?
Revolusi Theologis
Satu hal yang terkadang menjadi salah adalah karena pemahaman akan agama yang kurang pas. Dalam agama Islam disebutkan bahwa jumlah dosa setara dengan perbuatan dosa yang dilakukan, sedangkan dalam urusan pahala, Tuhan melipat gandakan pahala bagi pelakunya. Bahkan, untuk pahala bersedekah konon bisa dilipatgandandakan sampai 700 kali apalagi dilakukan di bulan Ramadhan. Teks agama mengatakan seperti itu.
Lebih mudahnya, ibarat orang korupsi 100 juta maka ia mendapatkan balasan dosa yang disetarakan 100 juta. Lalu dia bershodaqah 10 juta saja, maka bisa dipastikan ia akan mendapatkan pahala 7 milyar.  Kemudian, dalam agama Islam ada sebuah pemahaman bahwa amal manusia nantinya akan ditimbang di akhirat. Barang siapa yang timbangan pahalanya lebih besar dari dosanya maka akan masuk surga, pun sebaliknya jika timbangan dosanya lebih banyak dari pahalanya maka akan masuk neraka. Kalau kita menghitung hitung pahala orang korupsi 100 juta dengan menyedekahkan 10 juta harta korupsinya, maka akan mendapatkan hasil yang mengejutkan. Berdasarkan hitungan matematis di atas, maka akan menghasilkan pahala yang lebih banyak dari pada dosanya. Dengan demikian, para koruptor akan masuk surga lantaran pahalanya lebih banyak dari dosanya. Bisa jadi, pemahaman demikianlah yang dipahami para koruptor sehingga terus saja melalukan tindakan korupsi.
Tentunya, dalam memahami agama tidak boleh sedangkal itu. Inilah sebenarnya yang harus dirubah, melakukan sebuah revolusi theologis. Sebuah pembenahan pemahaman-pemahaman ajaran Ketuhanan yang salah penafsiran. Tuhan tak mungkin mengingkari janjinya, apapun perbuatan manusia akan mendapat balasan yang setimpal dengan perbuatan yang dilakukan. Begitu pula, balasan bagi para koruptor di akhirat nanti. Kebanyakan orang hanya sebatas mengenal Tuhan dan sifat-sifatnya, namun tak menyadari akan hadirnya Tuhan yang akan selalu mengawasinya. Jikalau, para pejabat pemerintah sadar akan hadirnya Tuhan yang selalu mengawasinya. Maka apapun yang dilakukan akan sesuai dengan ajaranNya dan tak akan ada lagi tindakan korupsi di negeri ini.


                                                *) Muhammad Mansur, Peneliti di Prodi Pendidikan                                                        Islam pada Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga                                                                                                                      Yogyakarta