
“Ibu, Aldi pamit dulu yaa….minta doa restunya nggih pak, bu..!!! ucap
Aldi.
“Iya le…ati ati ya… ning Jogja sing tenanan belajare. Ibu Bapak
bantu doa, mugi lancar ya le..””
tutur ibunya.
Terlihat juga, anggukan
bapak dengan raut muka yang optimis memantapkan keputusan putranya untuk kuliah
di Jogja.
Oo.. iya le, Ibu pesen..ati-ati srawung kaleh koncone nggih,
pinter2 anggenipun bergaul.” Tambah tutur ibunya.”
Nggih bu..Aldi pamit riyen. Assalamu’alaikum” Jawab Aldi.
Terlihat raut muka Aldi yang penuh optimis menatap masa depan. Aldi
memang anak yang rajin, bagus perangai dan tutur katanya, dan berbakti kepada
orang tuanya.
Berangkatlah Aldi seorang diri menggunakan kereta Prameks dari
Purworejo tempat kelahirannya menuju kota Jogja. Kebetulan saat itu, dia
diterima kuliah pada progam studi Matematika pada salah satu Perguruan Tinggi
Negeri di Kota Jogjakarta.
1 tahun kemudian….
Tak terasa, Aldi sudah berhasil menempuh kuliahnya selama 2
semester dalam kurun waktu 1 tahun. Saat ini pun Aldi beranjak di semester III.
Pada semester I dan II, perjalanan akademiknya tak mengalami masalah, semua
mata kuliah dilibas habis dengan memperoleh nilai diatas rata-rata
teman-temannya. IPKnya pun selalu cum load. Namun, sejak semester tiga
ini kenallah Aldi dengan teman-teman barunya yang ia jumpai ditempat-tempat
nongkrong dekat kampusnya. Aldi termasuk orang yang mudah bergaul dan
berinteraksi dengan teman temannya. Akrab dan semakin akrab, kondisi pertemanan
mereka pun semakin menyatu. Namun, sayang teman barunya ini adalah para
preman-preman yang sering nongkrong di dekat kampusnya.
Para preman –preman itu pun menggunakan kesempatan baik itu untuk
menambah personel mereka. Mereka berlagak baik kepada Aldi. Nyatanya, Aldi
sering diajak makan gratis oleh preman-preman itu. Kondisi Aldi yang memang
berasal dari kalangan kurang mampu pun, menjadikan Aldi senang, uang kiriman
yang sedikit itu pun bisa ia simpan, lantaran sering kali Aldi diajak makan
gratis oleh para preman itu.
Suatu saat, preman-preman itu mengajak Aldi kesuatu tempat. Namun,
mereka tak menyebutkan pergi kemana. Aldi pun menuruti ajakan para preman itu. Dan
ketika sampai di suatu tempat, Aldi pun terperanjat dan kaget, ternyata dia
berada di sebuah nigh club, hiburan malam atau sejenisnya. Aldi pun sebenarnya
tak mau masuk ke tempat maksiat itu. Namun, karena dipaksa, akhirnya Aldi tak
kuasa menolak keinginan preman preman itu.
Dentuman suara bas yang dahsyat, lampu hip hop yang berwarna warni,
dilengkapi para wanita-wanita mempesona turut meramaikan malam itu. Aldi pun
lama kelamaan terbawa dengan suasana, ia pun melupakan nasehat yang dulu pernah
ibu katakan kepadanya. Para preman itu pun berusaha mencekokinya dengan minuman
keras. Godaan syaitan yang begitu besar pun menghinggapi diri Aldi, dan
akhirnya ia meneguk beberap gelas
minuman keras. Pikirannya pun terbang melayang, seakan hidup di dunia
lain. Tak ingat lagi tentang apa yang menjadi amanah yang harus ia emban selama
di Jogja. Mata semakin memerah seraya berjalan dengan sempoyongan, sambil
menikmati gemerlapnya dunia hiburan. Sejak
saat itulah, Aldi berubah. Bukan menjadi Aldi yang dulu yang tekun beribadah,
rajin dan berprestasi. Malam-malam pun banyak ia habiskan dengan para preman
itu.
Teman-temannya pun bertanya tentang keberadaan Aldi yang sudah
berbulan bulan tak masuk kuliah. Nomer HPnya pun tak bisa dihubungi, lantaran
HPnya ia jual untuk berfoya-foya dengan para preman itu. Ibunya pun turut
resah, kenapa tak ada kabar dari putra tercintanya, karena biasanya setiap
bulan memberikan kabar kepadanya, entah itu tentang aktivitasnya, kondisi
perkuliahannya, atau sekedar curhat tentang permasalahannya.
“Pak…Aldi kenapa ya…kok ndak ada kabar beberapa bulan ini.. wonten
nopo nggih pak…??? Tanya sang ibu
kepada bapak.
Mpun tow bu, ndak usah dipikirkan. Anak kita ini sudah dewasa bu,
mungkin sibuk dengan kuliah atau organisasinya di kampus, jadi ndak sempat
ngasih kabar.” Jawab sang ayah
menenangkan Ibu Aldi.”
Tapi pak..??? wong HPnya saja ndak aktif..hmm..ya sudah lah
pak.semoga tak terjadi apa-apa….!!! Sahut
sang ibu.
Suatu ketika di malam hari….
Aldi kembali berada di tempat hiburan malam yang biasanya ia
menghabiskan waktu disana. Waktu itu menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Aldi
dan para preman itu masih terhanyut dalam nikmatnya dunia malam, semakin larut
maka semakin nikmat. Ketika itu ibu Aldi pun terbangun dan menunaikan sholat
malam, seraya berdoa agar putranya
tercinta.
Ya Tuhan…jadikanlah putraku Aldi putra yang sholih, istiqomah dalam
menghadapmu. Berilah kesehatan dan keselamatan kepadanya dari segala godaan
yang menghadang. Jadikanlah ia, anak yang rajin dan pandai dan kelak bisa meraih
apa yang dicita-citakannya. Jikalau, putraku berada dalam jalan yang sesat,
kembalikanlah ia ke jalan yang lurus, jalan yang engkau ridhoi. Kembalilah
anakku ke jalan TuhanMu..dst…)
(Sang ibu pun terus berdoa seraya meneteskan air mata dari kedua
kelopak matanya, raut muka yang mulai keriput pun terlihat jelas, air mata itu
membasahi pipinya dan menetes sampai diatas sajadah)
Tatkala sang ibu berdoa, ternyata bersamaan ketika Aldi akan meneguk
minuman keras itu. Dan entah tak tahu kenapa, Aldi langsung teringat ibunya
yang ada dirumah. Dia langsung kaget dan terperanjat, minuman keras yang ada
dalam genggamannya pun terlepas dan jatuh ke lantai dengan bunyi yang keras. “Pyarrrrrrrr……..krumpyang………!!!!
seketika orang-orang pun melihat kejadian itu dengan kaget.
Tidakkkkkkkkkkkkkk………tidakkkk…..kenapa aku disini. Ibuuuuuu…ibuuu……”teriak Aldi.
Dia kemudian berlari keluar sambil meneriak neriakkan ibunya. Para preman
tadi pun membiarkan Aldi berlari keluar, karena mereka dalam kondisi tak
sadarkan diri.
Aldi pun berlari dan menyusuri sepanjang jalan yang sepi, hanya lampu-lampu
kota dan beberapa kendaraan yang lalu lalang malam itu.
Dia merenungi dirinya seraya menangis, meneteskan eluh yang tak
henti-hentinya. Ia sesali perbuatan yang selama ini ia lakukan. Ia teringat
oleh nasihat-nasihat yang ibunya katakana kepadanya. Ia teringat akan masa
kecilnya, ketika ibunya mengurusnya dengan tulus ikhlas, menyuapinya dan
memandikannya dengan penuh kesabaran, ketika ibunya mengajarinya berbicara,
membaca, dan menulis, sampai bapak ibunya membiayainya untuk bisa bersekolah,
walaupun dengan jerih payah yang luar biasa. Ia teringat ketika ibunya
berjualan sayur di pasar dengan tetesan keringat dari keningnya. Ia teringat
jerih payah ayahnya sebagai pengayuh becak, yang berjuang keras mencari nafkah
supaya putranya bisa sekolah. Ingatan-ingatan masa kecil dengan ayah ibunya
menghantui pikirannya dan terus terpirkan. Tetes demi tetes air mata pun
terjatuh dari matanya yang sayup sayup, membasahi jalan aspal itu.
Aldi pun berhenti pada sebuah trotoar yang sepi, dia duduk
dipinggir jalan seraya merenungi apa yang telah dilakukannya selama ini. Aldi bertaubat
atas kesalahannya selama ini, dia berkomitment akan kembali ke jalanNya dan
akan selalu melakukan apa yang dipesankan kepada orang tuanya. Dia juga
teringat pada sebuah kata yang tertempel di sebuah bangunan di kampusnya, Anglaras
ilining Banyu, Angeli Ananging ora keli. Ucapan Sunan Kalijogo itu artinya kurang lebih mengajak kita
untuk menyelaraskan diri dengan arus zaman, tapi jangan sampai terhanyut dalam
arus itu. Dia punya komitmen akan tetap menggauli para preman itu dengan
tidak hanyut dalam perbuatan buruk yang dilakukannya, tapi sebisa mungkin
dengan perlahan, dia akan merubah para preman itu menuju jalan yang lurus
menuju jalan yang diridhoiNya.
Terimakasih atas nasehat dan doa ibu,
sehingga Aldi kembali di jalanNya.
Sungguh mulia, jasa-jasa sang ibu...""""""
Sungguh mulia, jasa-jasa sang ibu...""""""
****SELAMAT HARI IBU***
Depok, 23 Desember 2013.
Penulis,
Muhammad Mansur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar