Senin, 16 Desember 2013

Perlunya Karakter Kuat Pelajar (Harian Jogja, 12 / 06 / 12)


Perlunya Karakter Kuat Pelajar

Kota Jogja adalah kota yang representatif untuk konteks Indonesia sebagai kota pelajar. Namun, mahkota kota pelajar yang sejak dahulu disandangnya kini terancam tumbang. Yogya sebagai kota pelajar tersebut, ibarat tubuh, kini tengah dirasuki oleh virus yang mengancam sistem kekebalan tubuhnya. Virus ini tidak lain adalah tingkah laku pelajar itu sendiri. Sebuah budaya konsumerisme dan hedonisme telah menjangkit pelajar kita. Hal itu seakan-akan menggerus citra Jogja sebagai kota pelajar.
Ditengah prestasi nilai kelulusan Ujian Nasional (UN) tahun ini yang mengalami menurun, pola hidup kalngan pelajar terus dihinggapi budaya konsumerisme dan hedonisme. Kalangan pelajar tidak lagi disibukkan dengan kegiatan-kegiatan menyangkut keilmuan, mereka malah menyibukkan diri pada kegiatan kegiatan yang bersifat hiburan atau senang-senang semata tanpa menanggung beban tanggungjawabnya yang dipikul sebagai seorang pelajar. Kita bisa lihat sepintas, bagaimana aksi pelajar kita ketika kelulusan UN diumumkan. Mereka mengekspresikan rasa senangnya dengan aksi corat-coret, konvoi kendaraan, menghambur-hamburkan uang untuk berpesta bahkan tawuran pelajar. Selepas kelulusan pun mereka melampiaskan masa jenuhnya ketika menghadapi UN dengan ngegame sepuasnya. Diluar itu semua, pelajar kita saat ini lebih diasyikkan dengan budaya belanja dibanding dengan belajar. Bukankan itu semua budaya konsumerisme dan hedonisme?
Akibat dari budaya konsumerisme dan hedonisme dikalangan pelajar dapat berimbas pada kemerosotan kualitas pelajar kita, tidak hanya pada segi keilmuan tetapi juga pada segi tingkah laku dan  moralitas. Melihat fenomena yang ada, dibutuhkan sebuah benteng diri agar terbebas dari belenggu konsumerisme dan hedonisme. Disinilah peran pendidikan agama dalam membentengi diri pelajar dari budaya konsumerisme yang cenderung hedonis dan materialis. Pendidikan agama dimasing masing sekolah harus benar- benar berperan dalam membangun kesadaran dalam menghilangkan budaya konsumerisme dan hedonisme dalam diri pelajar. Dalam hal ini, pelajar juga harus bisa selektif dalam pergaulan, karena teman bergaul akan memberikan efek yang besar dalam tingkah laku kita. Teman sepergaulan yang mempunyai pola hidup hedonis, akan berpengaruh pada pola hidup kita juga yang juga akan bersikap hedonis.
Benteng diri tadi berkaitan erat dengan karakter. Penguatan karakter sangat dibutuhkan dalam mengubah gaya hidup konsumerisme dan hedonisme. Pemahaman untuk menjauhi budaya konsumerisme dan hedonisme mutlak diperlukan. Seorang pendidik di sekolah, tidak hanya sekedar mentrasfer pengetahuan (transfer of knowledge) tetapi juga harus transfer nilai (trasfers of value). Karena nilai-nilai itulah nantinya yang akan menjadi kristal nilai yang membentuk karakter seseorang untuk menjauhi budaya konsumerisme dan hedonisme. Tidak hanya peran pendidik di sekolah, tetapi juga peran orang tua dalam memperkuat karakter putra putrinya. Dimulai dari orang tua, harus bisa memberikan teladan bagi putra-putrinya untuk tidak bergaya  hidup konsumerisme dan hedonisme. Satu contoh, ketika orang tuanya mempunyai pola hidup yang serba berkemewahan, maka anaknya pun juga akan mempunyai pola hidup mewah. Karena orang tua sebagai teladan bagi anak-anaknya.
Jika memang para pendidik dan juga orang tua bisa bekerja sama dalam menanamkan karakter pada anak terlebih sejak usia dini. Maka budaya konsumerisme dan hedonisme akan sirna dalam diri pelajar kita. Dan jikalau para pelajar ingin mempertahankan citra Jogja sebagai kota pelajar atau kota pendidikan, maka jadilah pelajar yang baik sebagaimana orang terdidik. Baik buruk kota Jogja ada ditangan kita semua. Untuk itu, hancurkan budaya konsumerisme dan hedonisme. Dan mulailah untuk menjadi pelajar yang baik demi Jogja, kota pelajar tercinta.

*)Muhammad Mansur, mahasiswa PAI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kejujuran, Kepuasan Sejati (KR ( 23/ 04/ 12)



Kejujuran, Kepuasan Sejati

Pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SMA segera rampung, kini saatnya UN tingkat SMP dan SD yang akan segera menyusul. Semua guru dan siswa pun pasti merasa cemas bagaimana hasilnya nanti, apakah bisa  lulus atau tidak.
Lulus UN dengan nilai yang memuaskan merupakan dambaan setiap siswa, guru dan orang tua siswa. Hanya saja  yang menjadi pertanyaan, apakah siswa merasa puas lulus UN dengan nilai yang dihasilkan? Pertanyaan itu perlu ditelusuri lebih lanjut dan dianalisis kembali untuk bisa menjawabnya. Hasil UN tidak terlepas dari sebuah proses panjang yang dilalui siswa dan guru.Dengan asumsi supaya siswa bisa mengerjakan soal UN dengan baik dan meraih nilai tinggi , guru pun berupaya keras.  Sebuah proses yang bagus tentu akan menghasilkan hasil yang bagus pula.
Meski begitu, ketika siswa yang masuk di sebuah sekolah itu siswa dengan kemampuan rata-rata bahkan di bawahnya, asalkan dikemas dengan proses pembelajaran yang baik dan berkualitas, tak mustahil bakal menghasilkan anak-anak yang cerdas yang bisa meraih nilai UN dengan memuaskan. Sebaliknya, jika input siswanya bagus tetapi tidak diimbangi dengan proses pembelajaran yang bagus, bisa jadi nilai yang dihasilnya pun bisa menjadi buruk. 
Kepuasan ketika lulus UN dengan nilai yang memuaskan bisa dirasakan oleh seorang siswa dan guru. Apalagi, mengingat selama proses belajar mengajar mereka menjalani dengan tekun dan gigih. Dan juga ketika dalam pelaksanaan UN itu sendiri dilandasi dengan aspek kejujuran dan sportivitas, tanpa sebuah kecurangan apapun di dalamnya. Itulah sejatinya kepuasan yang didapat ketika siswa lulus UN. Aspek kejujuran ini pula yang menggembirakan sekolah.
Oleh karena itu, siswa hendaknya menyadari, UN bukanlah hanya sekedar ujian biasa tetapi merupakan ujian kejujuran.   Seorang guru hendaknya bisa melatih siswa untuk berproses secara baik dalam menghadapi UN dengan dilandasi aspek kejujuran. Karena dengan kejujuran , kepuasan sejatipun kita raih. Itulah sebuah proses yang harus dilalui dengan jerih payah yang patut dihargai.
                                                                          *) Muhammad Mansur, Guru dan                                                         Waka.Kesiswaan MI Wahid Hasyim Yogyakarta

Benarkah SMA Mencetak Pengangguran? (KR (31/ 01/ 12)



Benarkah SMA Mencetak Pengangguran?

Salah satu yang menjadi dilema dalam pendidikan di Indonesia adalah banyaknya pengangguran yang berasal dari lulusan SMA/ MA. Kita tidak bisa langsung menyalahkan SMA/ MA yang bersangkutan karena memang tujuan lembaga Pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) adalah mempersiapkan siswa untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dengan kata lain, setelah lulus mereka harus meneruskan ke perguruan tinggi (PT).
 Tapi kadang, kalau kita melihat apa yang menjadi tujuan SMA/MA tidak sesuai dengan realiatas yang ada, karena ternyata fakta membuktikan bahwa tidak semua siswa SMA/MA berkeinginan untuk melanjutkan kejenjang pendidikan lebih tinggi/ kuliah. Sebagian dari mereka berkeinginan setelah lulus sekolah nanti bisa langsung bekerja dan mendapatkan uang.
Melihat fakta yang ada, solusi terbaik dalam mengatasi problem ini adalah dengan menambahkan muatan ketrampilan dalam mata pelajaran yang ada di sekolah/ madrasah yang bersangkutan. Saya kira itu tidak mustahil untuk dilakukan.
Paling tidak itu sebagai bekal bagi siswa yang nantinya tidak bisa melanjutkan pendidikan ke PT. Karena kita juga tidak bisa mengelak, bahwa bekal ketrampilan memang perlu dan penting dimiliki oleh setiap orang sebagai bekal hidup nantinya. Bagi SMA/ MA yang sudah memasukkan adanya muatan ketrampilan dalam kurikulumnya, mungkin harus terus disempurnakan dan dimaksimalkan lagi, agar siswa yang menjadi output dari lembaga pendidikan itu memang benar benar lulusan yang berkualitas/ bermutu dan bisa eksis dalam kehidupannya kelak.
Selain muatan ketrampilan yang diberikan, penulis kira akan lebih sempurna lagi dengan adanya sisipan mata pelajaran tentang bisnis atau entrepreneur. Tujuannya bukan menanamkan siswa pada orientasi materi atau uang. Tidak lebih sebagai bekal siswa nantinya dalam menghadapi dunia nyata yang sesungguhnya pasca ia lulus.
Kita tahu, banyak negara maju karena dinegeri tersebut banyak wirausaha dan kemudian mampu menciptakan lapangan pekerjaan, yang secara tidak langsung bakal menyerap tenaga kerja.
Mungkin itu sebagai bahan pertimbangan bagi lembaga pendidikan SMA/ MA dalam mengatasi atau mengantisipasi lulusan yang nantinya tak mampu melanjutkan kePT, sehingga lulusan SMA/ MA yang tidak meneruskan kuliah, bisa langsung menerapkan apa yang telah ia dapatkan di sekolah, yaitu  bisa membuat lapangan pekerjaan sendiri untuk menopang kehidupannya di masa yang akan datang.


*)Muhammad Mansur, mahasiswa Jurusan PAI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

KAMPUSKU Adalah RUMAHKU (Majalah Konsolidasi, 17 /09/ 13)


KAMPUSKU Adalah RUMAHKU

Istilah universitas secara umum lebih populer dengan sebutan kampus. Kampus merupakan tempat mahasiswa untuk mencari ilmu, baik itu ilmu dibidang akademik maupun non akademik. Ilmu di bidang akademik biasa kita peroleh di dalam kelas perkuliahan. Sedangkan, atmosfer ilmu non akademik dapat ditemukan di sebuah organisasi atau pergerakan mahasiswa yang disesuaikan dengan minat dan bakat kita.
Ada yang berpendapat bahwa kampus adalah miniatur negara. Ada benarnya juga, karena di dalam kampus dengan mengikuti organisasi, mahasiswa akan berlatih berorganisasi dan memimpin organisasi. Yang nantinya pengalaman itu menjadi pelajaran hidup untuk dipraktekkan dalam lingkup struktur kenegaraan yang cangkupannya lebih luas. Yang jelas, segala hal dapat kita peroleh dari kampus apabila kita cerdas dalam mengambil dan mengolah kesempatan yang ada di kampus. Dan pandai-pandailah kita dalam memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan kampus.
Ketika kita bisa meraih segala hal yang ada dari kampus, dari situlah kita menyadari bahwa kampus itu adalah kampus milik kita bersama. Yaitu tak ubahnya seperti rumah sendiri. Dengan menganggap kampus adalah rumah kita sendiri, maka diibaratkan sang penghuni rumah akan berusaha menjaga kedamaian, keamanan, kenyamanan serta kebersihan rumah yang ia tempati. Maka patutlah kita sebagai warga kampus harus senantiasa menciptakan suasana aman, damai dan nyaman di kampus seperti rumah kita sendiri.
Namun sebaliknya, ketika realita berbicara bahwa banyak warga kampus (baca:mahasiswa) masih kurang memiliki rasa “kampus adalah rumahku”.  Mereka masih menganggap, bahwa kampus hanyalah sekedar tempat belajar yang tidak mempunyai makna lebih dari sekedar rutinitas semata. Padahal jika kita menganggap kampusku adalah rumahku, maka seorang mahasiswa akan senantiasa menjaga dan merawat kampus tersebut. Yang rasa menjaga dan merawatnya sudah seperti rumah sendiri. Salah satu contoh ketika menganggap kampusku adalah rumahku adalah ketika kita melihat sampah yang tercecer di lingkungan kampus, maka kita dengan sadar akan memungutnya dan memasukkannya di tempat sampah. Hal itu terjadi karena kita sadar bahwa kampus kita adalah rumah kita, sehingga kebersihannya harus selalu dijaga. Rasanya akan lebih indah dipandang bila motor terparkir rapi dengan mengisi tempat yang didepannya terlebih dahulu. Dan kampus kita akan terasa nyaman bila kericuhan antar mahasiswa maupun civitas akademisi yang lain bisa diminimalisir. Lebih-lebih, sikap sopan santun dan saling menghormati antar teman, rektor, dekan, dosen, pegawai TU, cleaning service, penjaga parkir dan penjaga warung akan menciptakan rasa kebersamaan sebagai keluarga besar kampus yang saling peduli.
Nampaknya, disini perlu adanya kesadaran warga kampus untuk bisa mempunyai rasa “kampusku adalah rumahku”. Dengan begitu, suasana kampus akan terasa nyaman dan damai. Serta kebersamaan pun akan terasa jauh lebih nikmat. Mulailah dari diri kita sendiri dan ajaklah satu hingga tiga sahabat dekat untuk menciptakan rasa: “Kampusku adalah Rumahku”.

Oleh Mas Mansur

Rabu, 11 Desember 2013

Pengalaman Bisnis: JUALAN ES DEGAN


Kamis, 09 Juni 2011. Waktu itu ada acara Entrepreuner Day di kampus. Saat itu aku dan temenku  Arif Jaihan ikut berjualan es degan dan kaos yang aku ambil dari Grosir.
Kebetulan waktu itu aku punya kenalan wali MI Wahid Hasyim, yaitu ibunya Mufti yang waktu itu kelas enam. Mumpung ada moment yang pas, aku lobi saja ibunya Mufti untuk menjualkan es degannya.
Karena aku tahu, es degannya tidak diragukan lagi dech. Banyak para pelanggan yang hanya sekedar mampir untuk membeli es degan. Demikian juga santri Wahid Hasyim, mereka banyak yang menjadi langganan setia ibunya Mufti.
Alhamdulillah, aku bersyukur pada Allah karena es degan jualanku laris, aku dan kawanku bisa menjual es degan  hampir habis 2 tremos. Dengan mendapatkan uang senilai Rp. 125. 000,00 dan dengan keuntungan Rp. 50.000, 00 dibagi 2 berarti Rp 25.000,00.Ya… Yang penting tidak rugilah, lagi pula aku juga bukan semata mata mencari keuntungan. Yang penting aku tambah pengalaman dan punya banyak kawan disana.
Satu hal yang bisa ku ambil dari kisah ini adalah bahwa untuk berbisnis tak perlu malu. Yang penting pekerjaan yang kita lakukan adalah hal yang halal. Bukan dari jalan mencuri, merampok atau perbuatan nista lainnya.
Jadi, bisnis itu tak perlu takut. Harus berani mengambil resiko. Apapun bentuk bisnisnya, kita harus percaya diri dan optimis dengan kesuksesan bisnis kita. Kalau gagal, ya...coba lagi dan tak perlu putus asa. Aku berharap, ke depan aku punya usaha yang maju dan berkembang di kemudian hari. Amin.
(tulisan zaman dulu)
Yogya, 9 Juni 2011

Selasa, 10 Desember 2013

Cara menulis Artikel di Harian Jogja


INI TEMA BUAT SELASA DEPAN.  17/ 12/ 2013
***MONGGO***
========================================================================


=================================================================================
Sahabat sahabat pembaca, semua orang mampu menulis. Aktifitas menulis memang tidak bisa terlepas dari kehidupan. Untuk mengerjakan tugas sekolah/ kuliah perlu aktifitas menulis, komunikasi juga bisa lewat tulisan, entah itu via. sms, lewat FB, Twitter, dan jejaring social lain.Namun, untuk  menjadikan tulisan kita bernilai jual, inilah yang tak mudah. Salah satunya melalui artikel ilmiah populer di media massa. Dalam sesi kali ini akan membahas bagaimana cara menulis artikel di salah satu media lokal yang ada di Jogja, yaitu Koran Harian Jogja. Koran ini cocok untuk sahabat-sahabat pembaca yang baru belajar menulis di media massa, termasuk saya ini.

Minggu, 08 Desember 2013

ICE BREAKER dengan LAGU



Untuk menarik minat peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran, guru harus menciptakan kondisi pembelaran yang menyenangkan. Salah satu carnya adalah dengan ICE BREAKER, kegiatan ini bermacam-macam caranya.  ICE BREAKER adalah kegiatan yang digunakan untuk memecah ketegangan dan kebekuan dalam proses pembelajaran.  Untuk kali ini adalah contoh ICE BREAKER dengan Lagu. 
Judul lagunya adalah ALLAH MAHA MELIHAT.
Teks lagunya seperti ini:
Allah maha Melihat hat hat,
Semua perilakumu mu mu
Allah maha Mendengar ngar ngar,
Semua perkataanmu mu mu

Allah itu satu tu tu,
Tiada yang bersekutu tu tu
Siapa yang bilang dua wa wa,
 Neraka tempatnya nya nya

Kegiatan ini akan membuat para peserta didik tertarik dan merasa senang, dengan begitu kita bisa memasukkan nilai nilai moral atau materi pelajaran yang akan kita sampaikan. ICE BREAKER ini cocok digunakan dalam pembelajaran pada jenjang SD/ MI, TPA/ TKA atau untuk tingkatan anak-anak.
SELAMAT MENCOBA>>>>
BAKAL SERU DECH )))))))

Sabtu, 23 November 2013

Sampaikan Pesan Moral Lewat Cerita


CERITA, memang bisa diakui semua orang suka mendengarkan cerita. Entah itu anak kecil bahkan sampai orang dewasa. Kenapa orang suka cerita ya??? Banyak jawaban untuk menjawab pertanyaan ini, ada yang bilang karena seru, menarik, memunculkan rasa ingin tahu, dan seterusnya.
Apalagi anak-anak...kalau ditanya....siapa yang mau pingin denger ceritaaa???? Mereka pasti jawab dengan lantang,,,SAYAA...SAYAA!!!!
Ya.... itulah yang terjadi, bahkan sampai-sampai anak-anak ketagihan dengan apa yang namanya cerita.
Naah..disinilah, peluang besar untuk kita memasukkan sebuah nilai nilai moral kepada mereka melalui metode yang memang mereka sukai yaitu CERITA.
Memang ini sebuah metode efektif, walapun ada juga yang mengatakan ini merupakan metode KUNO. Ya...boleh lah dibilang sepertyi itu, karena memang tradisi cerita bermula sejak zaman nenek moyang dulu.
Kenapa metode cerita sangat cocok untuk diterapkan???
CERITA bukanlah ceramah biasa, didalamnya ada sebuah alur peristiwa/ kejadian, dan ada pesan-pesan hikmah tentunya. Dengan cerita kita tidak terkesan menggurui dan mendekte anak didik harus begini dan begini. Tapi biarlah mereka berproses untuk mengambil pesan-pesan yang disampaikan, kita hanya memberikan stimulus saja kepada mereka.
Saatnya Berbagi Cerita dan Motivasi...
Sejumlah anak-anak terlihat ceria mengikuti kegiatan Peringatan Hari Anak di SD NU Sleman Yogyakarta. Berbagai rangkain acara pentas seni anak ditampilkan. Keratif dechh,,,mulai dari penampiulan rebana dengan aransemen yang unik, dipadukan dengan keyboard dan gamelan, musikalisasi puisi, tarian ala jawa yang mengangkat tradisi jawa.
Dan yang ditunggu-tunggu anak-anak, yaitu cerita. Hmm..sebenarnya aku awalnya nggak percaya juga dengan kemampuanku. Namun, PD ajalah..dengan kemampuan yang ku miliki, berusaha tampil maksimal. Alhamdulillah dechhh....sukses juga dechh..bisa membuat bahagia, ketawa ketiwi, tapi juga tak lupa menyampaikan pesan-pesan moral untuk mereka sebagai bekal menjadi generasi terbaik di masa depan.
Kunci keberhasilan cerita, ternyata juga ditentukan oleh kesan-kesan awal membuka sebuah cerita, kita harus benar-benar membawa mereka tertarik dengan cerita kita buat anak-anak fokus mendengarkan cerita. Maka diawal perlu mengkondisikan mereka,bisa dengan ice breaker atau komunikasi dua arah. Buat anak nyaman dengan kita,  setelah itu baru masuk ke cerita.  Kita masuki dulu dunia mereka kalau udah gitu maka mudah dech melangkah ke cerita dan kita berikan motivasi-motivasi akan menjadikan mereka pribadi yang hebat menuju generasi masa depan.


Yogyakarta, 23 November 2013












TFAT (Training For Amazing Trainer) angkatan 9


Kitaa....???? Amazaing Trainer...
Amazing Trainerr...???? Kitaa...
Begitulah jargon acara TFAT yang diikuti oleh berbagai kalangan orang-orang yang terpilih dari berbagai wilayah Indonesia. Jargon yang lain adalah ketika ditanya:
Apa kabar hari ini????
Jawabannya adalah:
Alhamdulillah...SUKSES, MULIA, BAHAGIA...!!!
Itulah harapan dari training ini, biar kita jadi orang sukses, yang dengan sukses itu kita kita akan meraih sebuah kemulian dan kebahagian.
Kala itu semua orang dari berbagai latar belakang profesipun berkumpul dalam sebuah acara yang luar biasa dalam rangkaian Training For Amazing Trainer di Yayasan SPA Pelem Kecut Yogyakarta. Acara ini diselenggarakan oleh Prima Edu Center bekerjasama dengan Achievement Motivation Training.
Perasaan bahagia dan ungkapan syukur kepadaNya, saya masih diberi kesempatan untuk mengikutinya acara-acara berkelas semacam ini, setelah sebelumnya mengikuti acar TFT bersama Kang Deden dkk di Purworejo. Ada hal yang menjadi luar biasaa di acara TFAT angkatan 9 ini. Yaa...kenapa luarrr biasaa??? Yaa..saat itu aku memang peserta, tapi saat itu juga diminta untuk memandu acara sampai selesai. Terlebih tak hanya MC tapi sekalian qiroahnya. Dapet tugas doble niie... PESERTA, MC, Plus QORI’. Namun, tak masalah ini malah menjadi sebuah ajang latihan dan berproses. Hehe..
Bertindak sebagai pemateri yaitu beliau Bapak Suprihatin Santoso. Beliau ini punya gelar yang panjang BGT, sampe nggak hapal mau nulskannya.haha...Certifiednya dah banyak banget di bidang motivator dan tentunya tak diragukan lagi. Gaya penyampaiannya yang santai dan tidak kaku membuat para peserta terlena dechhh....sampe nggak terasa waktu satu hari rasanya cepat banget.
Awalnya sie nggak mengira kalo mmateri yang segitu banyaknya bisa tersampaikan dalam waktu satuy hari. Tapi ternyata...amazing...!!!!! Semua materi bisa tersampaikan dengan baik, dan tak hanya materi tetapi juga diimbangi dengan praktek.
Hal yang menarik lagi, ketika teman2 peserta diminta untuk membuat materi presentasi dalam waktu 2 menit, memikirkan konsep / mateti cerita dalam waktu 2 manit. Haha...smuanya serba cepat. Hmm..yaa tapi itu mengajarkan sebuah kedisiplianan dan berpikir cepat. Hasilnya juga Amazing, walaupun hanya modal TERPAKSA....!!!! hag hag hag.
Terimakasih dech kepada segenap rekan-rekan tim dari Prima Edu Center yang telah menyelenggarakan acara TFAT, juga pada pemateri bapak Santos yang telah mau berbagi ilmunya..semoga menjadi bisa manfaat ilmunya dan  kedepan bisa semakin AMAZING dech...^^^



                                                                                                            Yogyakarta, 23 November 2013

Senin, 04 November 2013

Langkah Kitaa… Di TRAINING FOR TRAINER BATCH 7

Alhamdulillah..sebuah kata yang pantas dilantunkan sebagai ungkapan rasa syukur yang tak terhingga. Pengalaman yang mungkin tak pernah terlupakan dalam hidupku. Bisa bertemu dengan para peserta yang luar biasa dari berbagai wilayah bumi Indonesia. Mereka dari berbagai berbagai macam profesi, guru, mahasiswa, dosen, pengasuh yayasan,  trainer, bahkan dokter/ perawat serta berbagai macam profesi lainnya. Satu hal yang aku ambil dari mereka adalah SEMANGATnya yang luarr biasaa…. Padahal sebagian dari mereka tergolong sudah berumur kepala 3 keatas, alias sudah menjelang tua..peace… J
Tapi JEMPOL dech buat mereka, mereka merelakan waktu, tenaga, dan biaya demi mendapatkan ilmu dan mengembangkan pribadinya menjadi lebih baik.

BAHAGIA
          Memang… tak sekedar pelatihan  biasa, tapi membuat peserta bahagia dengan canda dan tawa.Memang LUARR BIASSA..seakan kita tak punya masalah dan melupakan segala permasalahan yang ada. Hmm…ketika taka amat-amati, tak ada muka masam, murung, lemas, capek diantara wajah peserta, semuanya dengan PENUH SEMANGAT.